LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR I






Nama       : Gunawan wibisono
NIM         : A1C318056
Kelas        : Fisika Reguler B 2018








LABORATORIUM PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
TEOREMA THEVENIN DAN NORTON
I.              TUJUAN
1)      Setelah melakukan praktikum, mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi karakteristik teorema Thevenin dan teorema Norton pada rangkaian arus searah dengan benar.
2)      Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat mencontohkan fungsi teorema Thevenin dan teorema Norton dengan benar.
3)      Setelah melakukan praktikum, mahasiswa diharapkan dapat mengukur Vth, Rth, IN, dan RN pada angkaian Thevenin dan Norton dengan benar.
II.           LANDASAN TEORI
Menurut Cooper (1994:151-152), untuk memperoleh pengganti Thevenin dilakukan dua langkah: langkah pertama menyangkuttegngan ekivalen (pengganti) yang muncul pada terminal c dan d bila galvanometer dipindahkan dari rangkaian. Langkah kedua menyangkut penentuan tahanan pengganti dengan memperhatikan terminal c dan d, dan mengganti baterai dengan tahanan dalamnya.

Tegangan thevenin atau tegangan rangkaian terbuka diperoleh dengan menunjuk pada gambar, dan menuliskan:

Dimana,  dan  
Dengan demikian
ini adalah tegangan generator thevenin.

Tahanan rangkaian pengganti thevenin diperoleh dengan melihat kembali terminal c dan d dan mengganti baterai dengan tahanan dalamnya, rangkaian gambar dinyatakan tahanan thevenin.
Menurut Bandyopadhyay (2015: 2), Consider two one port networks A and B that are connected as shown in Fig 3. Network A may contain only linear passive elements and linear independent and controlled sources. On the other hand there is no restriction of linearity for network B. However, following constaint exist:
1.      There is no electromagnetic coupling between network A and B.
2.      There exists no source at network A that is controlled by any voltage or current in network B.
 Under this condition Thevenin’s theorem states that the network A may be replaced by a voltage source V θ connected in series with an impedance Z θ where Vθ is the open circuit voltage measured at the port of A and Zθ is the driving point impedance of A with all the independent sources in A reduced to zero.
Salah satu kegunaan utama Teorema Thevenin adalah untuk menggantikan suatu bagian besar rangkaian, yang seringkali memang merupakan rangkaian yang rumit dan tidak menarik, menjadi sebuah rangkaian ekuivalen yang sangat sederhana. Sehingga, kita dapat melakukan proses perhitungan yang lebih cepat untuk besaran seperti tegangan, arus, dan daya yang dpaat dikirim oleh rangkaian semula ke suatu beban. Selain itu, dapat membantu memilih nilai resistansi beban terbaik. Dalam rangkaian penguat daya transistor dapat menentukan daya maksimum yang dapat diambil dari penguat untuk dikirimkan ke penguat suara (Hayt, W.H., dkk, 2005: 121).
Teorema Norton menyatakan bahwa sebarang jaringan yang dihubungkan ke terminal A dan B dapat digantikan dengan sumber arus tunggal IN yang positif dengan resistansi tunggal RN. RN adalah resistansi dengan seluruh sumber arus internalnya digantikan oleh hubung-singkat. Nilai RN sama dengan resistansi RTH. IN sama dengan arus yang melalui terminal ab jika dipasang satu hubung-singkat (Gussaw, 2002: 54).
Menurut Jamzuri dan Aminah (2005: 8) resistor-resistor R1 dan R2 membentuk jaringan pembagi resistif untuk memberikan tegangan umpan balik (VA) yang diperlukan pada input membalik. Tegangan umpan balik (V_) dibentuk pada R1. Karena tegangan pada input membalik sama dengan input tak membalik, maka : Arus yang lewat R1 dan R2 sama besar ialah I maka
Vi dan Vo diperoleh dari persamaan gain gambar 12
Gambar 12 Penguat Tak Membalik
  
III.        ALAT DAN BAHAN
1. Power Supply            = 1 Unit
2. Multimeter Digital     = 1 Unit
3. Project Board            = 1 Unit
4. Kabel Jumper             = 1 Meter
5. Resistor                      = 4 buah 2kΩ, 2 buah 1kΩ, 1 buah 510 Ω

IV.        PROSEDUR PERCOBAAN
4.1 Teorema Thevenin
1.    Persiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.
2.    Periksa semua bahan dan peralatan, pastikan semua dalam kondisi yang baik.
3.    Buatlah rangkaian seperti gambar dibawah ini:
4.    Langkah-langkah untuk mencari tegangan VTH untuk rangkaian pengganti Thevenin adalah:
·           Ukur tegangan open circuit terminal a-b, maka akan didapatkan nilai VTh.
·           Catat nilai VTh pada table kerja 1.1!
5.    Langkah-langkah untuk mencari hambatan RTh untuk rangkaian pengganti Thevenin adalah:
·           Matikan sumber tegangan dengan melepas sumber tegangan. Kemudian hubungkan singkat antara terminal a-b, seperti rangkaian dibawah ini:
·           Ukur resistansi pada terminal a-b dengan Multimeter, maka didapatkan RTh.


4.2 Teorema Norton
1.    Dengan rangkaian yang sama seperti percobaan sebelumnya.
2.    Mencari IN
·           Pasang sumber tegangan pada c-d, ukur arus (IN) hubung singkat pada a-b dengan memasang amperemeter pada terminal a-b secara langsung (perhatikan mode amperemeter DC), seperti terlihat pada gambar dibawah ini:
·           Catat nilai IN pada table kerja 1.2! 

3.    Mencari RN: 
·      Matikan sumber tegangan dengan melepas sumber tegangan dan gantikan dengan tahanan dalamnya, caranya dengan menghubungkan singkat antara terminal a-b, seperti gambar dibawah ini:
·      Nilai RN = RTh.
·      Catat nilai RN pada tabel kerja 1.2!

V.           DATA HASIL
6.1 Teorema Thevenin ( Vin= 9,01 V)
Rangkaian Asli
Vth
Rth
V= 9 V
R1= 2kΩ
R2= 2kΩ
R3= 1kΩ
R4= 2kΩ
R5= 1kΩ
R6= 2kΩ
R7= 510Ω
4,12 V
1,50 kΩ
6.2 Teorema Norton ( Vin= 9,01 V)
Rangkaian Asli
IN
RN
V= 9 V
R1= 2kΩ
R2= 2kΩ
R3= 1kΩ
R4= 2kΩ
R5= 1kΩ
R6= 2kΩ
R7= 510Ω
7,26 μA
1,50 kΩ

VI.        PEMBAHASAN
Teorema Thevenin ialah metode analisis yang digunakan untuk mengubah rangkaian kompleks menjadi rangkaian ekuivalen sederhana yang terdiri dari satu hambatan secara seri dengan sumber tegangan. Teorema Thevenin menyatakan bahwa “ Setiap rangkaian linier yang mengandung beberapa tegangan dan hambatan dapat diganti hanya dengan satu tegangan tunggal secara seri dengan satu hambatan yang terhubung melintasi beban”. Teorema Norton ialah metode analisis yang digunakan untuk mengubah rangkaian kompleks menjadi menjadi rangkaian ekuivalen sederhana yang terdiri dari satu hambatan secara paralel dengan sumber arus.
Percobaan yang dilakukan yaitu rangkaian thevenin dan Norton, dimana ada beberapa pengukuran pada percobaan kali ini, diantaranya yaitu mengukur tegangan thevenin, hambatan thevenin, arus Norton, hambatan Norton dari rangkaian sederhana dan menyelidiki pengaruh beban terhadap tegangan dan kuat arus rangkaian yang menggunakan teorema thevenin dan teorema Norton. Hambatan yang digunakan ada yang namanya hambatan beban. Dalam setiap percobaan yaitu percobaan untuk thevenin dan Norton terdapat empat resistor yang digunakan yang pastinya memiliki nilai-nilai yang berbeda namun tidak semuanya, dan salah satu resistor dianggap sebagai hambatan beban Rl.
Pada praktikum tentang Teorema Thevenin dan Norton ini kami melakukan percobaan untuk mengidentifikasi karakteristik kedua teorema tersebut dalam rangkaian arus searah serta mencontohkan fungi kedua teorema dan mengukur Vth, Rth, In, dan Rn pada rangkaian. Pada percobaan Teorema Thevenin, kami menggunakan  tegangan 9,01 Volt  dan hambatan R1= 2kΩ, R2= 2kΩ, R3= 1kΩ, R4= 2kΩ, R5= 1kΩ, R6= 2kΩ, R7= 510Ω. Rangkaian sesuai dengan gambar di prosedur. Setelah diukue didapatkan Vth sebesar 4,12 Volt. Setelah itu, hambatan Rth dicari dengan mematikan sumber tegangan dan menghubungkan secara singkat terminal a dan b dan diukur Rth dengan multimeter digital yaitu sebesar 1,5 kΩ. Jadi, dapat dikatakan bahwa hambatan thevenin 1,5 kΩ dapat menggantikan rangkaian asli yang lebih kompleks atau rumit seperti pada teori.
Pada percobaan Teorema Norton, kami menggunakan  rangkaian yang sama dengan percobaan teorema thevenin, namun hanya mengubah perlakuannya saja yaitu mengukur arus hubung singkat terminal a-b dan didapatkanlah nilai In yaitu 7,26 μA, karena RN = RTH, maka nilai RN ialah 1,5 kΩ. Perbedaan antara teorema Norton dengan Thevenin adalah pada teorema Norton menggunakan sumber arus dan hambatan dipasang paralel dengan sumber arus sedangkan pada thevenin, hambatan dipasang seri dengan sumber tegangan.
Dari percobaan tersebut dapat diketahui bahwa karakteristik teorema thevenin pada arus searah yaitu menunjukkan bahwa keseluruhan jaringan listrik tertentu kecuali beban, dapat diganti dengan sirkuit ekuivalen yang hanya mengandung sumber tegangan listrik dengan resistor yang terhubung secara seri, hingga hubungan antara arus dan tegangan pada beban tidak berubah. Penggunaan utama dari Thevenin ialah menyederhanakan sebagian besar komponen rangkaian.
Dari percobaan Norton dapat diketahui bahwa karakteristik teorema Norton pada arus searah yaitu menunjukkan bahwa keseluruhan jaringan listrik tertentu kecuali beban, dapat diganti dengan rangkaian yang lebih sederhana dengan sebuah resistor yang terhubung secara paralel  sehingga hubungan antara arus dan tegangan pada beban tidak berubah.
Rangkaian ekuivalen (kedua teorema terdiri dari sebuah sumber tunggal yang dirangkai dengan resistansi tunggal. Hal ini berarti baik Thevenin maupun Norton memiliki rangkaian ekuivalensi yang harusnya bisa memproduksi tegangan yang nilainya sama pada terminal yang terbuka (tanpa terhubung dengan beban). Jadi, tegangan thevenin sama dengan arus Norton dikalikan resistansi. Jadi, apabila kita ingin mengubah rangkaian Norton menjadi Thevenin atau sebaliknya, kita bisa menggunakan resistansi yang sama dan menghitung sumber tegangan Thevenin dengan hukum Ohm. INORTON = ETHEVENIN / RTHEVENIN.

VII.     KESIMPULAN
1.    Karakteristik teorema Thevenin pada rangkaian arus searah yaitu keseluruhan jaringan listrik tertentu kecuali beban, dapat diganti dengan sirkuit ekuivalen yang terhubung antara sumber tegangan listrik dengan resistor seri, hingga hubungan antara arus dan tegangan pada beban tidak berubah sedangkan karakteristik teorema Norton pada arus searah yaitu keseluruhan jaringan listrik tertentu kecuali beban, dapat diganti dengan rangkaian yang lebih sederhana dengan sebuah resistor yang terhubung secara paralel  sehingga hubungan antara arus dan tegangan pada beban tidak berubah.
2.    Fungsi atau keguanaan teorema Thevenin dan Norton adalah untuk menggantikan sebagian besar rangkaian yang rumit dan dan kompleks menjadi sebuah rangkaian yang sederhana sehingga kita dapat melakukan perhitungan dengan cepat.
3.    Pengukuran VTH, RTH, IN, dan RN pada rangkaian Thevenin dan Norton dapat dicari dengan dan pengukuran V dan IN dapat diukur dengan multimeter.


DAFTAR PUSTAKA
Bandyopadhyay, A.K. 2015. Thevenin’s Theorem: An Easy Proof Suitable For Undergraduate Teaching. Lat. Am. J. Phys. Educ. Vol. 9, No. 2. ISSN: 1870- 9095.
Cooper, William David. 1994. Instrumentasi Elektronik dan Teknik pengukuran. Jakarta:Erlangga.
Gussow, Milton. 2002. Dasar – dasar Teknik Listrik. Jakarta: Erlangga.
Hayt, W.H, dkk. 2005. Rangkaian Listrik Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Jamzuri dan Aminah, Nonoh Siiti. 2015. Uji Sifat OpAmp Berbasis Sinkronisasi Materi Praktikum IC 741 Untuk Mahasiswa Pendidikan Fisika. Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF). ISSN: 2089-6158.








Lampiran Hitung
Vin    = 9,01 Volt
R       = 2kΩ






FILTER PASIF
(LOW PASS & HIGH PASS)

I.            TUJUAN

1.1  Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat mengidentifikasi pengertian High pass dan Low pass filter dengan benar
1.2  Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat menjabarkan cara kerja high pass dan low pass filter dengan benar.
1.3  Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat mengukur R, C, Vin, Vout, dan G(ω) pada rangkaian high pass dan low pass filter dengan benar.

II.            LANDASAN TEORI
Menurut Zuhal (2004:247), sesuai dengan sifat dalam meredam sinyal pada daerah frekuensi tertentu, maka filter dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
           
1.      Low Passs Filter (LPF), yaitu rangkaian filter yang mampu melewatkan atau tidak meredam sinyal pada frekuensi rendah, frekuansi respons, kurva redaman versus frekuensi.

2.      High Pass Filter (HPF), yaitu rangkaian filter yang mampu melewatkan atau tidak meredam pada frekuens tinggi, frekuensi respons, kurva redaman versus frekuensi.





In general, there is comparatively little change in the magnitude of either the Gibbs oscillations or the band with nations for values of 2n+1 and fc above the dashed lines. The most dramatic change is in the transition band with , which is approximately inversely proportional to n. Also, figs 3 and 4 can be used to reasonably infer the response properties when the total number of weight exceed 51 (Duchon, 1979:1019).
Jika suatu gelombang elektromagnetis memasuki daerah yang diionisasikan dengan arah vertical, seperti pada gambar, medan listrik bekerja sebagai suatu gaya pada partikel-partikelbermuatan (elektron elektron dan ion-ion), sehingga mengakibatkan adanya pergerakan muatan dank arena itu aliran arus. Meskipun sebuah ion positif akan membawa muatan yang sama besarnya seperti yang dibawa oleh sebuah elektron, ion adalah 1000 kali lebih massif, dank arena itu kecepatannya juga akan lebih kecil, sehingga sumbangan ion-ion terhadap arus dapat diabaikan (Idris,dkk.,1984:499).
Pemahaman tentang propagasi gelombang-gelombang sinusoid pada saluran tranmisi sangat penting secara fundamental. Hal ini dikarenakan bahwa semua sinyal yang ditransmisikan dalam aplikasi praktis selalu dapat diuraikan menjadi penjumlahan diskrit maupun konstan dari sekumpulan komponen sinusoid. Prosedur yang demikian ini adalah basis dari analisis domain frekuensi untuk sinyal-sinyal pada sluran trnmisi. Dengan teknik analisis ini efek perambatan gelombang pada saluran tranmisi dapat dipelajari dengan memperhatikan efek-efek yang bekerja pada komponen-komponen sinusoidnya. Hal ini secara efektif memungkinkan kita menganalisis selurh spectrum dari sinyal terkait dengan menggunakan parameter-parameter saluran yang bergantung pada frekuensi, dan kemudian menyatukan kembali komponen-komponen domain frekuensi tersebut untuk mendapatkan sinyal resultan didalam domain gelombang sinusoid, dan melalui ini pemahaman tentang berbagai perilaku sinyal pada saluran tranmisi (Hayt & Buck, 2006:324).
Menurut Irawan,dkk.(2011:5), dalam penelitiannya parameter filter pasif akan dihitung dengan menggunakan program GUI (Grafical User Interface) matlab. Sedangkan pengujian untuk kerja alter akan dilakukan dengan mendesain filter dan model jaringan sistem multi mesin 9 bus IEEE menggunakan simulink library. Diagram alir (flow chart) desain dan pengujian filter adalah sebagai berikut:



















(Gambar diagram alir desain dan pengujjian filter pasif)

 III.            ALAT DAN BAHAN
1.      Signal generator                                              = 1 unit
2.      Osiloskop (osiloskop dan probe 2 buah)        = 1 unit
3.      Multimeter                                                       = 1 unit
4.      Resistor                                                           = 100Ω & 150Ω
5.      Kapasitor                                                        = 0,1μF
6.      Bread board                                                   = 1 unit
7.      Set jumper                                                       = 1 meter


 IV.            PROSEDUR PERCOBAAN
                          4.1            High pass filter
1.      Disiapkan semua perlatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.
2.      Diperiksa semua bhan dan peralatan, pastikan semua dalam kondisi baik.
3.      Disiapkan resistor sebesra 100 ohm dan ka[pasitor sebesar 0,1 μF yang akan digunakan dalam percobaan ini.
4.      Digunakan multimeter untuk mengukur besar resistansi resistor. Jangan tempelkan anggota tubuh pada probe multimeter atau resistor karena hal ini dapat menimbulkan bias pembacaan.
5.      Disususn rangakain seperti gambar di bawah ini pada bread board.




6.        Pastikan jumper serta kabel telah dalam posisi yang baik. Pastikan dengan benar tidak terjadi shorting.

7.      Atur input pada signal generator sebesar 500 mmVpp dengan menggunakan sinyal masukan sinusoidal dengan frekuensi rendah.
8.      Matikan signal generator kemudian menghubungkan signal generator ke rangkaian di posisi input.
9.      Hubungkan rangkaian ke osiloskop menggunkan dual chanel. Chanel 1 osiloskop dihubungkan ke input rangkaian dan chanel 2 dihubungkan ke output rangkaian.
10.  Nyalakan osiloskop lalu tunggu kurang lebih 2 menit. Kemudian signal generator dapat dihidupkan.
11.  Diukur tegangan output menggunakan multimeter.
12.  Ybah frekuensi pada signal generator dengan menaikkan frekuensi pada signal generator.
13.  Pada setiap perubahan frekuensi signal, tampilan pada osiloskop di foto serta regangan output dicatat.

14.  Catat hasil percobaan pada tabel.
                          4.2            Low Pass
Ulangi percobaan pada percobaan di atas, namun dengan bentuk rangkaian seperti pada gambar di bawah ini

           





    V.            DATA HASIL
5.1 High pass filter è Vin = 5 volt
Frekuensi
DIV
Volt/div
Vout
G (w)
20 log G
10,1
0,2
1
0,07
0,014
-37,077
100,11
0,2
1
0,07
0,014
-37,077
1,46k
0,8
1
0,56
0,112
-19,02
10,2k
2,2
1
0,77
0,159
-15,97
100,95k
2,3
1
0,8
0,16
-15,92
1,08M
2,3
1
0,8
0,16
-15,92

5.2 Low pass filter
Frekuensi
DIV
Volt/div
Vout
G (w)
20 log G
10,002
6
2
4,2
0,84
-1,51
100,68
6,2
2
4,3
0,876
-1,15
1,0492k
5,8
2
4,1
0,82
-1,72
10,012k
2
2
1,41
0,282
-10,99
100,25k
0,4
2
0,128
0,0256
-31,84
1,0895M
0,2
2
0,14
0,028
-31,056


VI.            PEMBAHASAN
Filter merupakan sebuah jaringan yang di desain agar dapat melewatkan sebuah pada daerah frekuensi tertentu. Daerah frekuensi dimaan isyarat dapat diloloskan dapat disebut pita lolos (pass band) dan daerah frekuensi dimana isyarat ditolak disebut pita henti (stop band). Filter dengan pita lolos pada frekuensi rendah disebut filter lolos rendah, sedangkan untuk pita lolos frekuensi tinggi disebut filter lolos tinggi.
Percobaan tentang filter pasif, dimana pada percobaan ini dilakukan dua percobaan, yang pertama itu ada low pass filter, dan yang kedua itu ada high pass filter. Low pass filter merupakan filter yang digunakan untuk meloloskan sinyal listrik dengan frekuensi lebihrendah dari frekuensi cut-offnya dan akan melemahkan sinyal yang lebih tinggi dari frekuensi cut-offnya. Pada low pass filter ideal, sinyal dengan frekuensi diatas frekuensi cut-off tidak akan dilewatkan sama sekali. Intinya low pass filter ituhanya meloloskan sinyal dengan frekuensi rendah dan tidak meloloskan frekuensi tinggi dari cut-off. Pada percobaan low pass filter digunakan 6 frekuensi yaitu: 10 Hz, 100 Hz, 1kHz, 10kHz, 100kHz,1MHz, saat digunkan frekuensi tadi untuk rangkaian low pass filter, pada layar AFG ditampilkan nilai frekuensinya antara lain (untuk masing-masing frekuensi tadi): 10,002 Hz; 100,68 Hz;1,0492 kHz; 10,012kHz; 100,25 kHz; 1,0895 MHz. Untuk mendapatkan nilai G (w) adalah dengan persamaan . Sehingga diperoleh nilai G sebesar 0,84; 0,876; 0,82; 0,282; 0,0256; 0,028.

,







Dari grafik di atas dapat dilihat semakin besar frekuenasi yang digunakan maka Vout atau Vrms yang dihasilkan itu menurun atau mengecil, namun pada saat frekuensi yang digunakan itu 100 Hz, Vout yang dihasilkanitu besar. Biasanya itu semakin besar frekuensi yang digunakan maka gelombang yang ditunjukkan osiloskop itu semakin kecil. Maka Vout yang dihasilkan juga akanmengecil atau menurun besarnya. Itu karena low pass filter seperti yang kita ketahui adalah hanya meloloskan sinyal dengan frekuensi rendah saja.
High pass filter, pada percobaan ini frekuensi yang digunakan sama dengan frekuensi pada percobaan low pass filter,dan frekuensi pada display AFG juga sama besarnya dengan yang ada di percobaan low pass filter. High pass filter merupakan filter yang meloloskan frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi cut-offnya dan akan memberikan redaman besar pada frekuensi Yng BErada di bawah frekuensi cut-offnya. Intinya high pass fiter itu rangkaian filter yang hanya meloloskan sinyal dengan frekuensi rendah.
Pada percobaan ini diperoleh hasil tegangan output sebesar 0,7 volt dengan frekuensi 10,1 Hz; 0,07 volt 100,11 Hz; 0,56 volt dengan 1,46 kHz; 0,77 volt dengan 10,2kHz; 0,8 volt dengan  100,95 kHz; 0,8 volt dengan 1,08 MHz. dari hasil tersebut maka diperoleh nilai G sebesar  0,014; 0,014; 0,0112; 0,159; 0,16 dan 0,16.

 





Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pada frekuensi 10 Hz ke frejuensi 100 Hz itu mengalami kenaikan, dan untuk frekuensi berikutnya adalah konstan. Semakin tinggi frekuensi yang digunakan maka Vout nya juga akan sebanding atau besar juga, yang berarti gelombangnya besar.
Dari grafik di atas dapat dilihat semakin besar frekuenasi yang digunakan maka Vout atau Vrms yang dihasilkan itu menurun atau mengecil, namun pada saat frekuensi yang digunakan itu 100 Hz, Vout yang dihasilkanitu besar. Biasanya itu semakin besar frekuensi yang digunakan maka gelombang yang ditunjukkan osiloskop itu semakin kecil. Maka Vout yang dihasilkan juga akanmengecil atau menurun besarnya. Itu karena low pass filter seperti yang kita ketahui adalah hanya meloloskan sinyal dengan frekuensi rendah saja.
VII.            KESIMPULAN
1.               Low pass filter adalah filter atau penyaring yang melewatkan sinyal frekuensi rendah dan menghambat atau memblokir sinyal frekuensi tinggi. High pass filetr atau filter lolos tinggi adalah suatu rangkaian yang akan melewatkan suatu isyarat yang berada diatas frekuensi cut-off (wc) sampai frekuensi cut-off (wc) rangkaian tersebut akan menahan isyarat yang berfrekuensi dibawah frekuensi cut-off (w) rangkaian tersebut.
2.               Pada low pass filter. Semakin tinggi nilai frekuensi maka nilai Voutnya semakin kecil, pada nilai high pass filter semakin tinggi nilai Vout, maka nilai G(w) semakin rendah.
3.               Untuk mencari Vpp, Vp, Vout dan G(w) dapat menggunakan persamaan.
                                                      Vpp = Vout/Div x Div
                                                                  Vp =
                                                                  Vout =
G(w) =



DAFTAR PUSTAKA

Duchon, Claude F. 1979,’Lanczos Filtering in One and Two Dimensions’, Journal: Apllied meteorology. Vol-18.
Hayt, William H & Buck, John A. 2006. Elektromagnetika Edisi Ketujuh. Jakarta:Erlangga.
Idris, Kamal.1984. Electronic Communications, Thirddition. Jakarta : Erlangga.
Irawan, Heri,dkk.’Analisis Pengaruh Pemasangan Filter Pasif terhadap Penurunan Harmonik pada Sistem Multi Mesin 9 Bus IEEE’, UNDIP.
Zuhal, dan Zhanggisihean. 2004. Prinsip Dasar Elektronik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.


Lampiran Hitung





Lampiran Gambar




RANGKAIAN SERI RLC DAN RESONANSI
I.            TUJUAN
1.1 Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat mengidentifikasi rangkaian RL seri, Rc seri, dan RLc seri dengan baik dan benar.
1.2 Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat membedakan rangkaian RL seri, RC seri, dan RLC seri pada arus DC dan arus AC dengan benar.
1.3 Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat mengukur VR, VL, VC, dan kuat arus pada rangkaian RL seri, RC seri,dan RLc seri dengan benar.
1.4 Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat menghitung resistansi total Rlc dengan benar.
II.               LANDASAN TEORI
            Menurut Sutrisno (1986:48-49) dalam bukunya yang berjudul “Elektronika Teori dan Penerapannya” disitu dituliskan, misalkan kita mempunyai suatu sumber tegangan tetap, Vs (t), dan kita hubungkan dengan suatu rangkaian yang terdiri dari suatu hambatan R, induktansi L, dan suatu kapasitor c yang dihubungkan seri seperti pada gambar





Frekuensi dimana gelombang berdiri dihasilkan adalah frekuensi alami atau frekuensi resonansi tali. Dan pola gelombang berdiri yang berbeda merupakan “mode resonan getaran” yang berbeda. Karena walaupun gelombang berdiri merupakan hasil interferensi dua gelombang yang merambat kearah yang berlawanan, ia juga merupakan contoh benda yang bergetar pada resonansi. Pada saat gelombang berdiri terjadi pada tali, maka tali itu akan bergetar pada tempatnya, dan pada saat frekuensinya sama dengan frekuensi resonansi maka hanya diperlukan sedikit usaha untuk menghasilkan amplitude besar. Gelombang berdiri mempresentasikan fenomena yang sama dengan resonansi pada pegas atau pendulum yang bergetar, yang telah kita bahas sebelumnya. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa pegas atau pendulum hanya memilikisatu frekuensi resonansi, sementara tali memiliki sejumlah besar frekuensi resonan, masing-masing merupakan kelipatan bilangan bulat dari frekuensi resonan terendah (Giancoli,2001:393-394).
Alat analisis gelombang (wave analyzer) adalah sebuah instrument yang dirancang guna mengukur amplitude relative dari komponen-komponen frekuensi tunggal dalam bentuk gelombang yang kompleks atau cacat. Pada dasarnya instrument inibertindak sebagai sebuah voltmeter yang selektif terhadap frekuensi (frequency selective voltmeter) yang disertakan pada frekuensi dari satu komponen sinyal sembari membilang semua komponen sinyal yang lainnya. Umumnya digunakan dua konfigurasi rangkaian dasar (Cooper,1994:333).
The resonant uniaxial accelerometer reported in this paper is schematically shown in fig.1(a). it is composed of a movable inertial mass and two resonating beams. The proof mass is attached to the substrate by means of springs of length d which restrain its movement to be a uniaxial translation. The resonators are very thin beams attached to the substrate at one end and to the springs at the other end at distance d1 from the anchor point. The electrostatic driving and sensing of each resonator can be done by means of two parallel electrodes attached to the substrate. The gap distance between the beam and the parallel pates is 2,1 μm (Comi,2010:1141).
Menurut Loklomin (2004:40) rangkaian listrik seri adalah suatu rangkaian alat-alat  listrik yang disusun berurutan tanpa adanya cabang. Langkah pertama dalam mencari solusi rangkaian ini adalah mencari persamaan rangkaian. Karena rangkaian mengandung R, C dan ada perubah status, yaitu tengangan kapasitor dan arus inductor. Dengan mengabaikan gaya gerak istirk induksi yang timbul pada resistor, besarnya arus listrik yang mengalir melalui resistor dapat ditentukan dengan hukum Ohm persamaan :
III.            ALAT DAN BAHAN
3.1
Audio Frekuensi Generator (AFG)
1 unit
3.2
Oscilloscope
1 unit
3.3
Multimeter digital
2 unit
3.4
Resistor
1 kΩ
3.5
Induktor
2,5 mH
3.6
Kapasitor
0,01 μF



IV.            PROSEDUR PERCOBAAN
4.1
Disiapkan   semua   peralatan   dan   bahan-bahan   yang   diperlukan   saat

melaksanakan percobaan.

4.2
Diperiksa semua bahan dan perlatan, dipastikan semua dalam kondisi yang

baik.

4.3
Dibuat rangkaian seperti gambar di bawah ini





4.4 Dinyalakan AFG dan diatur tegangan awal keluaran AFG pada % volt
      dengan memutar amplitude atau penguatan AFG
4.5 Diusahakan tegangan V tersebut dipertahankan konstan pada 5 volt
4.6 Diatur frekuensi pada AFG sebesar 10 kHz
4.7 Dicatat nilai parameter yang ditunjukkan
4.8 Diulang langkah kerja nomor 6 sampai nomor 8 dengan frekuensi yang
       bervariasi sesuai dengan tabel kerja.
4.9 Kemudian diuat    rangkaian         seperti  pada    gambar di bawah ini



4.10  Diulangi langkah 4 sampai 9 untuk rangkaian RC, dan mengganti    parameter tegangan VL dengan VC.

4.11  Dibuat rangkaian seperti pada gambar dibawah ini




    4.12   Diulangi langkah 4 sampai9 untuk rangkaian RLc, dengan menambahkan VC sebagai parameter yang diukur.

V.            DATA HASIL
                          5.1            RL Seri
No.
Frekuensi (kHz)
(A)
1.
10,024
1,2
1.6
0,6
2.
30,374
1,2
2,2
0,5
3.
50,43
1,1
3,6
0,6
4.
70,43
1,2
5
0,7
5.
100,43
1,2
4
0,6

                          5.2            RC Seri
No.
Frekuensi (kHz)
(A)
1.
10
0,9545
0,2121
0,1
1,5
2.
30
0,9545
0,1060
0,1
2,2
3.
50
0,9545
0,0707
0,1
3,0
4.
70
0,9545
0,707
0,1
3,7
5.
100
0,9545
0,707
0,1
4

                          5.3            RLC Seri
No.
Frekuensi (kHz)
(A)
1.
10
5,4
0,4
8
2,1
2.
30
5,6
0,6
8
1,9
3.
50
5,6
0,8
7,5
2,0
4.
70
5,6
0,8
7,5
1,9
5.
100
5,6
0,1
7,5
1,7

 VI.            PEMBAHASAN
                Rangkaian listrik seri adalah suatu rangkaian alat-alat listrik yang disusun berurutan tanpa adanya cabang. Rangkaian RL, RC, dan RLC merupakam gabungan resistor, kapasitor dan inductor yang tersusun secara seri. Keempat rangkaian tersebut, arus dan tegangan yang digunakan merupakan arus dan tegangan efektif. Pada praktikum ini adalah untuk mengenal rangkaian seri RLC dan resonansi. Yang dilakukan pada percobaan ini adalah rangkaian RL seri, RC seri, dan RLC seri. Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi rangkaian RL, RC dan RLC seri dengan benar dan membedakannya, serta mengukur VR, VL, VC dan kuat tegangan rangkaian terseut.
                Pada percobaan yang pertama yaitu rangkaian RL seri. Pada rangkaian ini kami tidak melakukan percobaan dikarenakan minimnya waktu dan kami mengambil data dari kelompok lain. Untuk melihat hasil (volt) dapat dilihat menggunakan osiloskop dan juga bantuan dari generator panghasil frekuensi. Setelah melakukan percobaan, diperolehlah hasil : 10,024 kHz, Vr 1,2v, VL 1,6v, dan 0,6A; 30,074kHz, VR 1,2v, VL 2,2v dan I 0,5A; 50,43kHz, VR 1,1v, VL 3,6v dan I 0,6A; 70,43kHz, VR 1,2v, VL 5v dan I 0,7A; 100,43kHz, VR 1,2v, VL 4v dan I 0,6A. 
                Pada percobaan yang kedua yaitu rangkaian RC seri. Pada rangkaian ini kami tidak melakukan percobaan dikarenakan minimnya waktu dan kami mengambil data dari kelompok lain. Untuk melihat hasil (volt) dapat dilihat menggunakan osiloskop dan juga bantuan dari generator panghasil frekuensi. Setelah melakukan percobaan, diperolehlah hasil : 10, kHz, Vr 0,9545v, Vc 0,2121v, VL 0,1v, dan 1,5A; 30kHz, VR 0,9545v, Vc 0,1060, VL 0,1v dan I 2,2A; 50kHz, VR 0,9545v, VL 0,1v dan I 3,0A; 70kHz, VR 0,9545v, Vc 0,707, VL 0,1v dan I 3,7A; 100kHz, VR 0,9545v, Vc 0,707, VL 0,1v dan I 4A. 
                Pada percobaan yang ketiga yaitu rangkaian RLC seri. Rangkaian ini terdiri dari resistor, kapasitor dan inductor yang tersusun secara seri dan dihubungkan dengan sumber listirk AC. Setelah rangkaian tersusun, maka dihubungkan langsung pada osiloskop denagn 2 chanel osiloskop. Chanel 1 untuk VL dan Chanel 2 untuk VC. Setelah melakukan percobaan, diperolehlah hasil : 10, kHz, Vr 5,4v, Vc 0,4v, VL 8v, dan 2,1A; 30kHz, VR 5,6v, Vc 0,6, VL 8v dan I 1,9A; 50kHz, VR 5,6v, VL 7,5v Vc 0,8 dan I 3,0A; 70kHz, VR 0,9545v, Vc 0,8, VL 7,5v dan I 1,9A; 100kHz, VR 5,6v, Vc 1v, VL 7,5v dan I 1,7A.
                Sifat rangkaian seri dari sebuah resistor dan sebuah inductor yang dihubungkan dengan tegangan bolak-balik sinusoida adlah terjadinya pembagian tegangan secara vektoris. Arus yang mengalir pada hubungan seri adalah sama besar. Begitu juga untuk Rc seri dan RLc seri, karena sama-sma disusun seri maka arusnya itu sama pada tiap tegangan.
VII.            KESIMPULAN
1.      Rangkaian RC merupakan rangkaian yang terdiri dari resistor dan kapasitor yang disusun seri dan dihubungkan dengan sumber tegangan AC. Rangakaian RL seri merupakan ranhkaian yang terdiri dari resistor dan inductor yang disusun seri dan dihubungkan dengan sumber tegangan Ac. Terakhir rangkaian RLC seri merupakan yrangkaian yang terdiri dari resistor, inductor, dan kapsitor yang disusun secara seri dan dihubungkan dengan sumbr tegangan AC.
2.      Rangkaian RC, Rl, dan RLc dapat dibedakan melalui komponen            yang digunakan dan untuk sumber tegangannya itu juga dapat dibedakan berdasarkan sumber darimana yang digunakan dan itu termasuk DC atau AC.
3.      Percobaan ini dilakukan untuk mencari tegnagn pada tiap komponen dan kuat arusnya, untuk percobaan RL contohnya maka akan dicari VR dan VL, serta kuat arus, begitu juga untuk percobaan berikutnya.
4.      Untuk percobaan ini akan dilakukan perhitungan untuk mencari resistansi pada tiap percobaan



































DAFTAR PUSTAKA
Comi, Claudia, dkk. 2010 ‘A Resonant Microaccelerometer with High Sensitivity Operating in an Oscillating Circuit’,Journal of Microelectromechanical Systems, Vol.19.No.5.hh.1141.
Cooper,William David.1994.Instrumentasi Elektronik dan Pengukuran. Jakarta:Erlangga.
Giancolli,Douglas C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Loklomin, dkk. 2014. Aplikasi Metode Runge Kutta Orde Empat pada Penyelesaian Rangkaian Listrik RLC. Jurnal Barekeng, Vol. 8, No. 1.
Sutrisno. 1986. Elektroniks Teori dan PenerapannyaJilid . Bandung:ITB


Lampiran Hitung



Lampiran Gambar
TEOREMA DIODA ZENER
I.                   TUJUAN
1.      Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapat menyebutkan karakteristik Dioda Zener dengan benar
2.      Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapat membedakan fungsi dioda zener dengan dioda biasa dengan benar
3.      Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapat mengukur tegangan dan arus zener dengan benar

II.                LANDASAN TEORI
Menurut Setiyo (2017:132) Dioda zener adalah perangkat semikonduktor silokon yang memungkinkan arus mengalir baik ke arah maju maupun sebaliknya. Diode terdiri dari sambungan p-n khusus dirancang untuk melakukan arah sebaliknya bila voltase tertentu tercapai.
Diode zener memiliki breakdown voltage terbalik yang terdefinisi dengan baik, dimana ia mulai menghantarkan arus, dan besaparasi terus menerus dalam mode bias baliki tanpa mengalami kerusakan. Selain itu, penurunan voltase diode tetap konstan pada berbagai voltase, fitur yang membuat diode xener cocok untuk digunakan dalam regulasi voltage.
Menurut Muda (2013 : 59-60) pada kondisi bias balik, diode zener juga memiliki karakteristik yang sama dengan diode biasa asalkan tegangan yang diberikan tidak terlalu besar. Jika tegangan menjadi terlalu besar dan melebihi tegangan zener, maka arus mengalir pada arah yang berbeda. Diode zener tidak dapat mempertahankan keadaannya “matinya” jika tegangan terbalik yang melebihi V zener.
Hal ini terjadi karena saat tegangan terbalik mencapai V xener, medan listrik pada daerah deplesi menjadi sangat besar sehingga dapat mendorong elektron keluar dari struktur yang mengakibatkan terbentuknya pasangan elektron. Lubang maka mengalirkan arus dalam keadaan yang terbalik. Mekanisme ini disebut dengan zener breakdown. Adapun diode biasa, arus mengalir karena elektron terlepas sebagai akibat ditumpuk oleh elektron bebas lainnya. Mekanisme ini disebut dengan avalanche breakdown. Fungsi dari diode zener adalah sebagai penstabil tegangan. Selain itu, diode zener juga dapat dipakai sebagai pembatas tegangan pada level tertentu untuk keamanan rangkaian. Karena kemampuan arusnya yang kecil maka penggunaan diode zener sebagai penstabil tegangan unutk arus besar diperlukan sebuah bufferarus.
Menurut Listiyani (2018:76) diode zener terbuat dari bahan silicon. Biasanya digunakan pada rangkaian power supply dimana fungsinya sebagai penstabil arus. Meskipun arus AC yang dirubah ke DC berubah-ubah, tidak akan berpengaruh jika terdapat diode zener ini.
Adapun sifat diode zener sebagai berikut:
a.       Tegangan yang dicapai maksimal 0,7s/d 12 volt
b.      Hanya tahan terhadap arus kecil maksimal 1 s/d 50 mA
c.       Hampir tidak ada tegangan yang hilang jika sudah melewati diode zener.

Menurut Zuhal dan Zhabggischan (2004:132) diode zener pada kondisi tegangan balik (reverse biased), pada titik tegangan tertentu (Vz) terjadi arus balik (Iz) yang berarti dioide akan berkonduksi dengan arus Iz. Arus Iz mempunyai arus  minimum (Izk) dan mempunyai arus maksimum (Izm). Arus Izk adalah arus dimana diode zener mulai berkonduksi. Sedangkan Izm adlah arus maksimum dimana diode zener masih dapat beroperasi. Sedangkan Izt adalah arus normal dari diode zener biasanya dituliskan pada spesifikasi (data sheet) dari zener yang bersangkutan
Seperti pada gambar 6.33 a. perubahan Iz (mulai dari Izk,Izt-Izm) tidak mengakibatkan perubahan yang berarti pada Vz (relative konstan). Adapun kerja diode zener pada daerah sekitar Vz yang merupakan daerah kerja diode zener seperti pada gambar 6.2 b, sedangkan Rz dapat dihitung dari kemiringan kurva Iz, yaitu
Rz = ∆Vz/∆Iz
Kadang-kadang Rz diabaikan atau Vz dianggap konstan dalam analisis rangkain untuk memudahkan perhitungan.
Menurut Basit, dkk (2013:16) Voltage regulator performance parameters Output resistance (Ro)
Though zener tunneling currents are detrimental in traditional devices such as rectifiers, field-effect and bipolar transistors, it is important to note that the fundamental switching action in these devices is controlled by thermionic emission over barriers, which re uire a minimum of (KB T/e) ln 10 60mV per decade change of current at 300k (the’classical’limit). However, a new crop of tunneling FETs have been recently proposed and demonstrated, which rely on the very mechanism studied in this work. These devices are capable of reaching quantum mechanical tunneling. It is for such devices that high interband tunneling current drives in carbon-based ID nanostructures hold a distrinct advantage, and much promise in the future (Jena,2008:3).
Menurut Cassandra (2015:51-52), keluaran regulator ditentukan oleh R1 dan R2. Penulis menggunakan diode zener, transistor NPN dan resistor RE untuk membatasi masukan LM317. Beda tegangan antara masukan dan keluaran LM317 dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut
Berdasarkan persamaan beda tegangan dibatasi oleh tegangan diode zener yang digunakan. Resistor R1 berfungsi untuk menurunkan tegangan VCE transistor NPN dan resistor Rz menentukan besarnya arus diode zener.

III.             ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang akan digunakan:
1.      Breadboard                                        = 1 unit
2.      Resistor                                              =  @. 1 Pcs
3.      Mikro dan Mili-Ammeter dc = 1 unit
4.      Voltmeter dc                         = 1 unit
5.      DC Power supply                              = 1 unit
6.      Diode Zener                                      = 1 unit

IV.             PROSEDUR PERCOBAAN
1.      Persiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.
2.      Periksa semua Bahan dan Peralatan, pastikan semua dalam kondisi yang baik.
3.      Rangkaikan seperti pada gambar dibawah ini pada breadboard.

 






4.      Lepaskan beban RL. buat tegangan dari DC power supplysebesar 0 V.
5.      Lakukan pengukuran pada VZdan IZmulai dari 0 V, kemudian dinaikkan secara perlahan dengan step 1 V sampai mencapai kurang lebih 15 V, kemudian tuliskan datanya pada tabel kerja 5.1.
6.      Usahakan arus zener IZjangan sampai melebihi 50 mA. Kemudian gambarakan kurva karakteristik zener untuk kondisi bias reverse.
7.      Carilah tegangan knee dan resistansi zener (RZ) dari gambar kurva karakteristik zener. Kemudian catatlah hasilnya pada tabel kerja 5.2.
8.      Pasangkan kembali beban R­L­ (untuk beban penuh) pada percobaan regulasi tegangan, kemudian ukurlah arus source IT, arus zener IZ, arus beban IL, dan tegangan output beban penuh VO(FL), lalu tuliskan datanya pada tabel kerja 5.3.
9.      Hitunglah arus source IT, arus zener IZ, arus beban IL, dan tegangan output beban penuh VO(FL), dengan memperhitungkan tegangan zener dan resistansi zener, kemudian tuliskan hasilnya pada tabel kerja 5.3 dan bandingkan kedua hasil tersebut.
10.  Lepaskan resistansi beban RLuntuk pengukuran tanpa beban, kemudian ukurlah arus source IT, arus zener IZ, dan tegangan output tanpa beban VO(NL), dan catatlah datanya pada tabel kerja 5.4
11.  Hitunglah arus source IT, arus zener IZ, dan tegangan output tanpa beban VO(NL), dengan memperhitungkan tegangan zener dan resistansi zener,  kemudian tuliskan hasilnya pada tabel kerja 5.4 dan bandingkan kedua hasil tersebut.
12.  Dari hasil langkah (8) sampai (11), tentukan prosentase regulasi dari zener, kemudian tuliskan hasilnya pada tabel kerja 5.3 dan 5.4 kemudian bandingkan kedua hasil tersebut.

V.                DATA PERCOBAAN
Data pengukuran karakteristik zener
Tegangan input Vin (Volt)
Tegangan zener Vz (volt)
Arus zener Iz (µA dan mA)
Vout (Volt)
10
8,7
0,04
9,94
15,01
8,9
0,08
14,85
20
9,4
0,10
19,7

Tegangan Knee dan resistansi zener.
Tegengan Knee Zener
9,08 volt
Resistansi Zener (Rz)
132,7 Ω

Data zener regulator beban penuh
Parameter
Pengukuran
Perhitungan
Error (%)
Vin
10 V
10 V
0 %
IT
0,02 V
0,023 A
15 %
Iz
0,04 A
0,000 A
-100 %
IL
0,03 A
0,023 A
-23,3 %
Vo(Fl/Vout)
9,6 V
2,5 V
-73,96 %

Data zener tanpa beban
Parameter
Pengukuran
Perhitungan
Error (%)
Vin
15 V
15 V
0 %
IT
0,01 V
0,34 A
-43,3 %
Iz
0,06 A
0,068 A
58 %
Vo (Nl)
15,22 V
7,48 V
58 %
VR (%)
220 %
1596 %
-50,8 %


VI.             PEMBAHASAN
Dioda Zener adalah seperangkat semikonduktor silicon yang menggunakan arus mengalir baik ke arah maju mauapun sebaliknya. Dioda terdiri dari sambungan Pn tertentu, dirancang untuk melakukan sebaliknya bila voltase tertentu tercapai. Dioda Zener memiliki break dan voltase terbalik yang terdefinsi dengan baik, diaman ia mulai menghantarkan arus da berpotensi terus menerus dalam mode bias balik tanpa mengalami kerusakan.
Pada praktikum kali ini kami melakuakan percobaan mengenai teorema diode zener. Diode zener adalah perangkat semikonduktor silicon yang memungkinkan arus mengalir baik kearah maju maupun sebaliknya. Pada kondisi bias balik, diode zener memiliki karakteristik yang sama dengan diode biasa aslakan tegangan yang diberikan tidak terlalu besar. Kika tegangan menjaedi terlalu besar dan melebihi tegengan zener, maka arus mengalir pada arah yang berbeda.
Sebelum melakukan praktikum terlebih dahulu kami menyiapkan alat dan bahan. Setelah selesai kami menyiapkan alat dan bahan.maka kami melakukan prosedur percobaan sesuai dengan langkah kerja. Pada praktikum kali ini kami melakukan beberapa percobaan yaitu.
Percobaan pertama mengenai pengukuran karakteristik zener didapatkan hasil percobaan ke-1 Vin = 10 V, Vz = 8,7 V, Iz = 0,04 A dan Vout = 9,94 V. percobaan ke-2 didapatkan hasil Vin = 15,01 V, Vz = 8,9 V, iz = 0,08 A dan Vout = 14,85 V. pada percobaan ke-3 didapatkan hasil Vin = 20 V, Vz = 9,4 V, Iz = 0,01 A dan Vout = 19,7.
Kurva karakteristik diode zener pada daerah breakdown dimana pada saat bias mundur mencapai tegangan breakdown maka arus diode naik dengan cepat. Daerah breakdown inilah yang menjadi referensi untuk penerapan dari diode zener.

Gambar kurva karakteristik Dioda Zener



Daerah bias maju
Daerah breakdown
IZmin
Daerah bias mundur
VD   (Volt)
Vγ=0,7
IZmax
VZ
ID  (mA)
Simbol Dioda Zener
 






Titik breakdown dari suatu diode zener dapat dikontrol dengan memvariasi konsentrasi doping. Konsentrasi doping yang tinggi akan meningkatkan jumlah pengantara sehingga tegangan zenernya (Vz) akan kecil. Demikian juga sebaliknya, dengan konsentrasi doping yang rendah diperoleh Vz yang tinggi.
Pada percobaan kedua mengenai tegengan Knee dan resistansi zener didapatkan tegangan Knee zener 9,08 Volt dan Resistensi zener (Rz) 132,7 Ω. Pada percobaan kedua ini tegangan Knee (Knee Voltage) adalah tegangan pada saat arus mulai naik secara cepat pada saat diode berada pada daerah maju, tegangan ini sama dengan tegangan panghalang. Apabila tegangan diode lebih kecil maka diode tidak menghantar dengan baik.
Pada percobaan ketiga mengenai regulator beban penuh didapatkan data Vin pada persentase erro 0 %. Pada parameter IT pengukuran didapatkan 0,02V, perhitungan 0,03 A dan persentase erro = 15%. Untuk Iz didapatkan pengukuran 0,04 A dengan perhitungan 0,000 A dan persentase error -100%. Untuk parameter IL hasil pengukuran 0,03 A, dan perhitungan 0,023 A dan persentase error -23,3%. Pada parameter Vout pada hasil pengukuran didapat 9,6 V, perhitungan 2,5 V dan persentase error -73,96%. Pada pengukuran zener regulator penuh ini terdapat kesalahan tersebut dikarenakan kurangnya teliti di dalam melakukan praktikum. Pada percobaan keempat mengenai zener tanpa beban didapatkan data Vin pada pengukuran 15 V, perhitungan 15 V dan persentase error 0 %. Pada parameter IT pengukuran yang diperoleh yaitu 0,01 A, perhitungan 0,34 A dan persentase error = 43,3% parameter Iz pada pengukuran didapatkan hasil 0,06 A, perhitngan didapatkan 0,068A dan persentase error didapatkan 58%. Pada parameter Vout hasil pengukuran 15,22 V, perhitngan 7,48 V dan persentase error 58% pada parameter VR (%) didapatkan hasil pengukuran 220%, perhitungan 1496%, dan persentase error adalah -50,8%. Pada percobaan ini juga sepertinya terdapat kesalahan pada persentase error. Hal ini dikarenakan kurang telitinya kami dalam melakukan praktikum.
Kembali kepada percobaan pertama tentang pengukuran karakteristik zener dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tegangan input yang diberikan maka tegangan tegangan zener (Vz)nya juga semakin tinggi. Begitupun untuk nilai arus zener (Iz) apabila tegangan input semakin besar maka nilai Iz juga akan semakin besar. Vout juga akan semakin besar jika Vin nya juga besar.
VII.          KESIMPULAN
1.      Diode zener memiliki karakteristik yang sama dengan diode biasa asalkan tegangan menjadi terlalu besar. Jika tegangan menjadi terlalu besar dan melebihi tegangan zener , maka arus mengalir pada arah yang berbeda. Diode zener tidak dapat mempertahankan keadaaannya jika tegangan terbalik yang diberikan melebihi Vzener. Hal ini terjadi karena saat tegangan terbalik mencapai Vzener, medan listrik pada daerah deplesi menjadi sangat besar sehingga dapat mendorong elektron keluar dari struktur atomnya yang mengakibatkan arus dalam keadaan terbalik.
2.      Fungsi dari diode zener adalah sebagai penstabil arus. Sementara fungsi dari diode biasa yaitu sebagai saklar dan sebagai rectifier (penyearah)
3.      Untuk mengukur teganga dapat dirumuskan
V = Vout = Vz + Iz + Rz
Untuk mengukur arus dirumuskan dengan
Atau
Ir = Iz + Iv



DAFTAR PUSTAKA
Blocher, Richard.2004. Dasar Elektronika. Yoyakarta : Perpustakaan Nasional Cassandra, Gading.,Budhiantho, Matias & Setiaji, F.Dalu 2015,’Catu Daya Menggunakan Dioda Tabung Hampa Tipe 5AR4 dan 6CA4’, jurnal ilmiah elektronika.Vol.14,hh.51-52
Jena, Debdeep,dkk 2008,’Zener Tunneling in Semiconducting Nano-tube and Graphene Nanoribbon p-n Junctions’, journal of Electrical Engineering.hh.3
Listiyani, R. 2018. Dasar Listrik dan Elektronika. Sleman: Deepublish
Muda, I. 2013. Elektronika Dasar. Malang: Gunung Samudera
Setyo, M. 2017. Listrik & Elektronika Dasar Otomatis (Baric Automotive Electricity % Electronics). Magelang: Unimma Press
Zuhal dan Zhanggichan. 2004. Prinsip Dasar Elektroteknik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

















Lampiran Hitung






Lampiran Gambar





RANGKAIAN PENYEARAH
I.              TUJUAN
1.1  Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapat mengidentifikasi bentuk gelombang penyearah ½ gelombang, penyearah gelombang penuh (2 dioda), dan penyearah gelombang system jembatan dengan benar.
1.2  Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapat menjelaskan proses terbentuknya gelombang penyearah ½ gelombang, penyearah gelombang penuh (2 dioda), dan penyearah gelombang system jembatan dengan benar.
II.           LANDASAN TEORI
Menurut Surjono (2007: 28-34) penerapan dioda yang paling banyak dijumpai adalah sebagai penyearah. Penyearah berarti mengubah arus bolak-balik (ac) menjadi arus searah (dc). Penyearah yang paling sederhana adalah penyearah setengah gelombang, yaitu yang terdiri dari sebuah dioda. Melihat dari namanya, maka hanya setengah gelombang saja yang akan disearahkan. Rangakaian penyearah setengah gelombang mendapat masukan dari sekunder trafo yang berupa sinyal ac berbentuk sinus, Vi = Vm sin ωt. Dari persamaan tersebut, Vm merupakan tegangan puncak atau tegangan maksimum. Harga Vm ini  hanya bisa diukur dengan CRO yakni dengan melihat langsung pada gelombangnya. Sedangkan pada umumnya harga yang tercantum pada sekunder  trafo adalah tegangan efektif. Hubungan antara tegangan puncak Vm dengan tegangan efektif (Veff) atau tegangan rms (Vrms) adalah:
Prinsip kerja penyearah setengah gelombang adalah bahwa pada saat sinyal input berupa siklus positip maka diode mendapat bias maju sehingga arus (i) mengalir ke beban (RL), dan sebaliknya bila sinyal input berupa siklus negatip maka dioda mendapat bias mundur sehingga tidak mengalir arus. Sedangkan penyearah gelombang penuh terbagi menjadi dua macam, yaitu dengan trafo CT ( Center Tap = tap tengah) dan dengan system jembatan. Terminal sekunder dari trafo CT mengeluarkan dua buah tegangan keluaran yang sama tetapi fasanya berlawanan dengan titik CT sebagai titik tengahnya. Kedua keluaran ini masing-masing dihubungkan ke D1 dan D2, sehingga saat D1 mendapat sinyal siklus positip maka D2 mendapat sinyal siklus negatip dan sebaliknya. Dengan demikian D1 dan D2 hidupnya bergantian, namun karena arus I1 dan I2 melewati tahanan beban (RL) dengan arah yang sama, maka IL menjadi satu arah. Terlihat dengan jelas bahwa rangkaian penyearah gelombang penuh ini merupakan gabungan dua buah penyearah setengah gelombang yang hidupnya bergantian setiap setengah siklus. Penyearah gelombang penuh dengan system jembatan bisa menggunakan sembarang trafo baik yang CT maupun yang biasa atau bahkan bisa juga tanpa menggunakan trafo. Prinsip kerja rangkaian penyearah gelombang penuh system jembatan dapat dijelaskan, yaitu pada saat jembatan mendapatkan bagian positip dari siklus sinyal ac, maka D1 dan D3 hidup (on) dan D2 dan D4 mati (off).
Hamper semua peralatan elektronik memerlukan sumber tegangan searah untuk dapat bekerja. Alat-alat elektronik dengan daya yang relative kecil dapat menggunakan baterai atau aki. Tetapi untuk perlatan yang reletif memerlukan daya besar lebih baik menggunakan sumber tegangan yang berasar dari PLn. Mengingat listrik dari PLN bolak-balik tentu saja memerlukan rangkaian penyearah. Komponen elektronik yang berfungsi sebagai penyearah atadi adalah diode. Diode mempunyai sifat dapat menghantarkan arus listrik hanya pada satu arah. Apabila kaki anoda (A) dihubungkan dengan kutub positif dan kakio katoda (k),maka arus dapat mengalir dan keadaan yang demikian dikatakan diode terpanjar maju (forward bias). Apabila sebuah diode dipasang pada sumber tegangan bolak-balik, misalnya PLN(setelah melewati transformator step-down), maka oleh diode tegangan itu akan diubah menjadi tegangan searah. Dari o sampai dengan arus dapat diteruskan karena pada saat itu diode terpanjar maju. Tetapi dari hingga 2 dioda terpanjar mundur, oleh karenanya arus tidak dapat mengalir. Rangkaian yang demikian tadi disebut sebagai rangakaian penyearah gelombang stengah (half wave rectifier) (sitorus,dkk.,2015:4).
Reducing the rectifier drop out voltage decreaces power dissipation in the rectifier block and increases the average rectified dc voltage (Vout)available at the regulator input. This lowers the minimum operational receiver coil voltage, which in turn saves the required transmitted power significantly or increases the maximum permissible coupling distance between the transmitter and receiver coils.
Where VTH is the MOS threshold voltage, is the intrinsic trasconductance, and W and l are the transistor width and length, respectively. In the above equation, VTH is a processdependent parameter, which can be minimized in the circuit design by eliminating the body effect. To minimize the second term in (1), the W/L ratio should be increased as much as the rectifier area consumption and itsparasitic capacitance will permit (Ghovanloo,dkk.,2004:19).
Dioda merupakan komponen aktif bersaluran dua (dioda termonik mungkin memiliki saluran ketiga sebagai pemanas). Dioda mempunyai dua elektroda aktif dimana isyarat listrik dapat mengalir, dan kebanyakan dioda digunakan karena karakteristik satu arah yang dimilikinya. Dioda VARIKAP (VARiabel CAPacitor/ kondensator variable) digunakan sebagai kondensator pengendali tegangan. Sifat kesearahan yang dimiliki sebagian besar jenis dioda seringkali disebut karakteristik menyearahkan. Fungsi paling umum dari dioda adalah untuk memperbolehkan arus listrik mengalir dalam satu arah (disebut kondisi panjar maju) dan untuk menahan arus dari arah sebaliknya (disebut kondisi panjar mundur). Karenanya, dioda dapat dianggap sebagai versi elektronik dari katup pada transisi cairan (Bramasti, 2012: 50).
Menurut teori electron, jika sebuah benda bermuatan positip kalau benda tersebut kehilangan electron dan jika bermuatan negatip kalau benda tersebut kelebihan electron. Dalam keadaan berbeda muatan inilah munculnya tenaga potensial yang berada di antara benda-benda itu. Tenaga potensial dapat menunjukkan kemampuan melaksanakan kerja. Oleh karena itu bila sepotong kawat penghantar dihubungkan diantara kedua benda yang berbeda muatan menyebabkan terjadinya perpindahan energy diantara benda-benda itu. Perubahan energy ini berlangsung selama ada tegangan. Terjadinya beda tegangan disebabkan tiap muatan mempunyai tenaga potensial untuk mengerakkan suatu muatan lain dengan cara menarik atau menolak. Beda tegangan dapat dihasilkan dengan memberikan tekanan. Beda tegangan dapat berubah-ubah dari seperjuta volt sampai beberapa juta volt. Beda tegangan diantara terminal-terminal PLN ada yang 110 V atau 220 V. Hambatan ialah gesekan atau rintangan yang diberikan suatu bahan terhadap suatu aliran arus. Dengan adanya gesekan atau rintangan ini, menyebabkan gerak electron berkurang. Hambatan-hambatan ini yang menghalang gerak electron disebut resistanse. Jadi resistansi adalah hambatan listrik, makin besar resistansi sebuah penghantar, semakin kecil arus listrik yang mengalirinya. Sedangkan alat resistansi disebut resistor atau tahanan. Akibat adanya gesekan atau rintangan (resistansi) pada aliran electron, maka sejumlah energy listrik berubah menjadi panas. Resistor (hambatan) dapat pula berupa lampu atau elemen pemanas (Rubertson, 1992: 16-17).
III.        ALAT DAN BAHAN
1.      Transformator Step Down Non CT                         = 1 Unit
2.      Transformator Step Down CT                                 = 1 Unit
3.      Dioda Penyearah                                                    
4.      Resistor                                                                    =10 k / 1 W
5.      Condensator Elektrolit                                            = ( 2200 μf / 50 V )    
6.      Steker AC                                                                = 1 Unit
7.      Multimeter                                                               = 1 Unit
8.      CRO ( Cathode Right Tube )                                  = 1 Unit
9.      Breadboard                                                              = 1 Unit
10.  Tool Sheet                                                               = 1 Unit
11.  Jumper Ø.1 mm                                                       = 2 Meter

IV.        PROSEDUR PERCOBAAN
a.      Penyearah ½ Gelombang
1.      Dipersiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.
2.      Diperiksa  semua bahan dan peralatan, dipastikan semua dalam kondisi yang baik
3.      Dibuatlah Rangkain seperti dibawah ini pada Project Board.

 







4.      Pada sisi primer transformator, diberikan tegangan Suplly sebesar 220 V AC.
5.      Dilakukan pengukuran tegangan pada sisi sekunder transformator dengan menggunakan multimeter. Kemudian dicatat hasil pada table kerja 4.1.
6.      Diukur tegangan pada hambatan RL (VRL)
7.      Dihitung tegangan pada dioda dengan menghubungkan anoda dan katoda dengan multimeter.
8.      Diamati dan digambarkan bentuk gelombang keluaran pada hambatan RL dengan menggunakan osiloskop.
9.      Dicatat hasil pengamatan pada tabel kerja4.1

b.      Penyearah Gelombang Penuh (2 Dioda)
1.      Dipersiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.
2.      Diperiksa semua bahan dan peralatan, dipastikan semua dalam kondisi yang baik.
3.      Dibuatlah rangkaian seperti gambar dibawah ini pada Project Board.
 







4.      Diberikan tegangan Supply 220 V AC pada sisi primer transformator.
5.      Diukur tegangan pada sisi sekunder transformator dengan multimeter. Dicatat hasil pada tabel kerja 4.2.
6.      Diukur tegangan pada hambatan RL (VRL)
7.      Dihitung tegangan pada dioda (D1 dan D2) dengan menghubungkan anoda dan katoda dengan multimeter.
8.      Diamati dan gambarkan bentuk gelombang keluaran pada hambatan RL dengan menggunakan osiloskop.
9.      Dicatat hasil pengamatan pada tabel kerja 4.2

c.       Penyearah Gelombang Sistem Jembatan

1.      Dipersiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.
2.      Diperiksa semua bahan dan peralatan, pastikan semua dalam kondisi yang baik.
3.      Dibuatlah rangkaian seperti gambar dibawah ini pada Project Board.







4.      Diberikan tegangan Supply 220 V AC pada sisi primer transformator.
5.      Diukur tegangan pada sisi sekunder transformator dengan multimeter. Dicatat hasil pada table kerja 4.3!
6.      Diukur tegangan pada hambatan RL(VRL)
7.      Dihitung tegangan pada dioda (D1, D2, D3, dan D4) dengan menghubungkan anoda dan katoda dengan multimeter.
8.      Diamati dan gambarkan bentuk gelombang keluaran pada hambatan RL dengan menggunakan osiloskop.


V.           DATA HASIL
Tabel 4.1 Penyearah ½ Gelombang
Vsekunder
VRL
Vdioda
Bentuk Gelombang
2,8 x 5 =14 V
4,8 V
-4,9 V
V/DIV = 5
T/DIV = 20

Tabel 4. 2 Penyearah Gelombang Penuh
Vsekunder
VRL
VD1
VD2
5,2 V
9,95 V
-10,34 V
-10,5 V
V/DIV = 2
T/DIV = 20

Tabel 4.3 Penyearah Gelombang Sistem Jembatan
Vsekunder
VRL
VD1
VD2
VD3
VD4
5,6 V
14,73 V
-5,4 V
-5,94 V
5,10 V
-7,34 V

VI.        PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, kami melakukan 3 percobaan yaitu peyearah setengah gelombang, penyearah gelombang penuh (2 dioda), dan penyearah gelombang sistem jembatan. Dalam percobaan ini kami melakukan beberapa hal seperti mengetahui atau mengukur tegangan sekunder, tegangan dari resistor, tegangan diode dari bentuk gelombangnya.
Penyearah setengah gelombang adalah penyearah yang hanya mengeluarkan setengah siklus gelombang sinus dengan menggunakan satu diode penyearah saja dan satu resistor, serta trafo (CT). Alat yang digunakan untuk menampilkan bentuk gelombang yang dihasilkan adalah Osiloskop Digital. Prinsip kerja dari penyearah setengah gelombang ini adalah mengambil sisi sinyal positif dari gelombang AC transformator. Pada saat transformator memberikan output sisi positif dari gelombang Ac maka diode dalam keadaan forward bias sehingga sisi positif dari gelombang AC tersebut dilewatkan dan pada saat transformator memberikan sinyal sisi negative gelombang AC maka diode dalam posisi reverse bias, sehigga sinyal sisi negative tegangan AC tersebut ditahan atau tidak dilewatkan seperti terlihat pada gambar sinyal output penyearah setengah gelombang berikut.
 







Kelebihan dari penyearah setengah gelombang ini, yaitu simpel dan sederhana serta hemat biaya karena hanya menggunakan satu diode dan satu fasa sinyal sinus. Kelemahan dari penyearah setengah gelombang adalah keluarannya memiliki riak (ripple) yang sangat besar sehingga tidak halus dan membutuhkan kapasitor besar pada aplikasi frekuensi rendah seperti listrik PLN 50 Hz. Kelemahan ini tidak berlaku pada aplikasi power supply frekuensi tinggi seperti pada rangkaian SMPS. Kelemahan lainnya adalah kurang efisien karena hanya mengambil satu siklus sinyal saja. Artinya siklus yang lain tidak diambil alias dibuang. Ini mengakibatkan keluara dari penyearah setengah gelombang memiliki daya yang lebih kecil.
Penyearah gelombang penuh adalah penyearah yang mengeluarkan semua siklus gelombang sinus dari sinyal AC. Prinsip kerja dari rangkaian penyearah gelombang penuh adalah membuat penyearah ganda dengan lebih dahulu membalik siklus negative dari masukan. Artinya, penyearah gelombang penuh membutuhkan dua fasa input, satu fasa mengikuti masukan sinyal sinus dan satu fasa yang lain berbalikan dengan sinyal input. Pada percobaan penyearah gelombang penuh (2 dioda) menggunakan dua diode dan satu resistror serta trafo (CT) sebagai transformator dan osiloskop untuk menampilkan bentuk gelombang.
Prinsip kerja rangkaian penyearah gelmbang penuh dengan dua diode dapat bekerja karena mengunakan transformator dengan CT. Pada saat terminal output transformator pada D1 memberikan sinyal puncak positif maka terminal output pada D2 memberikan sinyal puncak negative. Pada kondisi ini D1 pada posisi forward bias dan D2 pada posisi reverse bias. Sehingga sisi puncak positif dilewatkan melalui D1. Kemudian pada saat terminal output transformator pada D1 memberikan sinyal puncak negative maka terminal output pada D2 memberikan sinyal puncak positif. Pada kondisi ini D1 posisi reverse dan D2 pada posisi forward, sehingga puncak sinyal positif dilewatkan melalui D2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.
 








Kelebihan penyearah gelombang penuh adalah lebih efisien karena mengambil semua bagian dari siklus sinyal AC yang disearahkan. Hal ini membuat keluaran dari penyearah gelombang penuh memiliki riak (ripple) yang kecil fan lebih halus. Daya yang terserap juga lebih efisien karena tidak ada siklus yang dibuang. Kelemahannya adalah kebutuhan akan satu siklus pembalik yang berarti harus menambah satu gulungan lilitan lagi pada transformator serta penggunaan dua buah diode untuk penyearahan. Ini berakibat pada penambahan biaya yang harus dikeluarkan untuk rangkaian.
Penyearah Gelombang Sistem Jembatan adalah penyearah dengan memanfaatkan topologi diode yang disusun dengan system jembatan. System ini mengambil semua siklus gelombang sinus masukan namun dengan input fasa tunggal. System lebih efisisen pada system power supply dengan input fasa tunggal karena menghemat penggunaan lilitan. Prinsip kerja dari penyearah gelombang system jembatan dimulai pada saat output transformator memberikan level tegangan positif, maka D1, D3 pada posisi forward bias dan D2, D4 pada posisi reverse bias sehingga level tegangan sisi puncak positif tersebut akan dilewatkan melalui D1 ke D3. Kemudian pada saat output transformator memberikan level tegangan sisi puncak negative maka D2, D4 pada posisi forward bias dan D1, D3 pada posisi reverse bias sehingga level tegangan sisi negative tersebut dialirkan melalui D2, D4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik output berikut.
 







VII.     KESIMPULAN
1.      Bentuk gelombang penyearah ½ gelombang, yaitu berupa gelombang sinusoidal, tetapi hanya memiliki puncak karena lembah/sisi sinyal negative ditahan atau tidak dilewatkan sehingga diantara puncak yang satu dengan yang lainnya terlihat seperti memilki jarak. Penyearah gelombang penuh, bentuk gelombangnya seperti gelombang sinusioidal tetapi tidak memiliki lembah dan antarapuncak terlihat seperti tidak memiliki jarak. Penyearah gelombang system jembatan, bentuk gelombangnya seperti bentuk gelombang penyearah gelombang penuh tetapi terlihat lebih halus akibat adanya kapasitor.
2.      a. Penyearah ½ gelombang
Pada saat transformator memberikan output sisi positif dari gelombang AC maka diode dalam keadaan forward bias sehingga sisi positif dari gelombang AC tersebut dilewatkan dari pada saat transformator memberikan sinyal negative gelombang AC maka diode dalam posisi reverse bias, sehingga sisi negative tegangan AC tersebut ditahan atau tidak dilewatkan.

b. Penyearah Gelombang Penuh
penyearah gelombang penuh membutuhkan dua fasa input, satu fasa mengikuti masukan sinyal sinus (D1 dalam keadaan forward bias dan dilewatkan). Dan satu lagi fasa yang lain berbalikkan dengan sinyal input (D2 dalam keadaan reverse bias dan ditahan).

c. Penyearah Gelombang System Jembatan
system ini mengambil semua siklus gelombang sinus masukan namun dengan input fasa tunggal. System ini memanfaatkan kerja forward secara bergantian. Pada siklus positif, diode pertama dan ketiga bekerja secara forward lalu pada siklus negative , diode kedua dan keempat yang ganti bekerja secara forward.








DAFTAR PUSTAKA
Bramasti, Rully. 2012. Kamus Fisika. Surakarta: Aksarra Sinergi Media
Ghovanloo, Masyam, dkk. 2004, ‘Fuzzy Integrated Wideband High Current Rectifier for Inductively Powered Devices’, IEE Journal of Solid-State Cicuit,Vol.39.No.11.HH1979.
Robertson, John B. 1992. Keterampilan Teknik Listrik Praktis. Bandung: Yrama Widya
Sitorus, Brigita,dkk. 2015,’Perancangan Panel Surya Pelacak Arah Matahari Berbasis Arduino Uno’, E-Jurnal Teknik Elektro dan Komputer, Vol.8,No.3,hh.4.
Surjono, Herman Dwi. 2007. Elektronika Teori dan Penerapan. Jawa Timur: Cerdas Ulet Kreatif













Lampiran Hitung



Lampiran Gambar   
 































KARAKTERISTIK DIODA

I.                   TUJUAN
1.      Setelah melakukan praktikum, mahasiswa dapat mengidentifikasi karakteristik dioda.
2.      Setelah melakukan praktikum, mahasiswa dapat menganalisis rangkaian bias maju dan bias mundur pada dioda.
3.      Setelah melakukan praktikum, mahasiswa dapat melukiskan grafik karakteristik dioda dengan benar.

II.                LANDAAN TEORI
Menurut Istardi (2017:14-15) sebagai saklar, diode akan aktif (ON)  jika tegangan pada anoda lebih positif daripada tegangan pada katoda, dan diode akan membelok (off) jika tegangan pada katoda. Artinya, cara pengaktifan diode ini cukup diberi tegangan dari anoda ke katoda yang lebih besar dari Vout diode tersebut (forward bias). Biasanya Vok ini berkisar antara 0,3 sampai 0,7 V. jika sebaliknya diode diberi tegangan dari katoda menuju anoda maka diode tersebut akan off (reverse bias).
Gambar rangkain dari diode yaitu sebagai berikut.
Menurut Yohandri dan Asrizal (2016:149-150) karakteristik diode dapat diilustrasikan melalui hubungan arus yang mengalir melalui diode dengan tegangan yang diberikan. Rangkaian untuk menentukan karakteristik diode dalam bias maju dan mundur seperti pada gambar 7.12
Untuk mengamati karakteristik diode. Sebuah voltmeter dan ampermeter digunakan dalam rangkaian untuk rangkaian bias maju, voltmeter mengukur hanya beda tegangan yang terdapat pada diode saja tidak termasuk arus yang mengalir dalam amperemeter. Dengan mengubah-ngubah tegangan melalui Rv, maka diperoleh grafik untuk diode dari bahan silicon dan germanium seperti gambar 7.13
Berdasarkan gambar 7.13 kenaikan tiba-tiba dalam arus bias mundur terjadi pada suatu tegangan balik yang dikenal dengan tegangan breakdown balik. Efek ini terjadi karena intensitas dari medan listrik menyebabkan kenaikan dalam pasangan elektron lubang.
1.      Bias Mundur (Reverse Bias)
Menurut Surjono (2007:1314) Bias mundur adalah tegangan negative baterai keterminal anoda (A) dan tegangan positif keterminal katoda (K) dari suatu diode. Dengan kata lain, tegangan anoda katoda VA-K adalah negative (VA-K  0 ). Gambar 1.12 menunjukkan diode diberi bias mundur.
Karena ujung anoda (A) yang berupa bahan tipe P diberi tegangan negative, maka hole-hole(pembawa mayoritas) akan tertarik kekutub negative baterai menjauhi persambungan. Demekian juga karena ujung katoda (K) yang berupa bahan tipe n diberi tegangan positip, maka elektron-elektron (pembawa mayoritas) akan tertarik ke kutub positip baterai menjauhi persambungan. Sehingga daerah pengosongan semakin besar, dan arus yang disebabkan oleh pembawa mayoritas tidak ada yang mengalir.
Sedangkan pembawa minoritas yang berupa elektron (pada bahan tipe p) dan hole (pada bahan tipe n) akan berkombinasi sehingga mengalir arus jenuh mundur (reverse saturation current) atau Is. Arus ini dikatakan jenuh karena dengan cepat mencapai harga maksimum tanpa dipengaruhi besarnya tegangan baterai.
2.      Bias Maju (Forward Bias)
Apabila tegangan baterai dihubungkan keterminal anoda (A) dan negatifnya ke terminal katoda  (K), maka diode disebut mendapatkan bias maju.
Dengan pemberian polaritas tegangan seperti pada gambar 1.13. yakni VA-K positif, maka pembawa mayoritas dari tipe P (hole) akan tertarik oleh kutub negative baterai lewati persambungan dan borkombinasi dengan elektron (pembawa mayoritas bahan tipe n). demekian juga elektronnya akan tertarik oleh kutub positif baterai untuk melewati persambungan. Oleh karena itu, daerah pengosongan terlihat semakin menyempit pada saat diode diberi bias maju. Dan arus diode yang disebabkan oleh pembawa mayoritas mengakir yaitu  ID.
Sedangkan pembawa minoritas dari bahan tipe P (elektron) dari tipe n (hole) akan berkombinasi dan menghasilkan Is. Arah Is dan ID adalah berlawanan. Namun karena Is jauh lebih kecil daripada berlawanan. Namun karena Is jauh lebih kecil daripada ID, maka secara praktis besarnya arus yang mengalir pada diode ditentukan oleh ID.
Dioda merupakan komponen elektronik yang berfungsi untuk melewatkan arus hanya satu arah saja. Diode memegang peran penting dalam eletronika, diantaranya adalah menghasilkan tegangan searah dari tegangan bolak-balik dan untuk mengatur tegangan searah agar tidak berubah dengan beban maupu dengan perubahan tegangan PLN (Fauzan, 2016:1-2).
The source-side auxiliary pMpS (MP3) share its source and gate terminals with te diode-connected Mp, and turn on whenever MP, is o, white connecting the separatade N-will to Vcoil 1, which is higher than Vout+Vgs at this time. The drain-side auxiliary pMps (MP4) shares its drain termnay with MP, and turns on whenever Vcoil is less than Vout by least [Vth}, while connecting the separated N-well to Vout (Ghavanoloo, dkk, 2004:1979).
.
III.             ALAT DAN BAHAN
Alat dan bahan yang akan digunakan:
1.      Power Supply              = 1 unit
2.      Multimeter                  = 1 unit
3.      Dioda                          = 1 buah
4.      Resistor                       = 1 kΩ 1 buah

IV.             PROSEDUR KERJA
                          4.1            Forward bias
1. Persiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.
2. Periksa semua bahan dan peralatan, pastikan semua dalam kondisi yang baik.
3. Siapkan sebuah dioda dan resistor sebesar 1k ohm yang akan digunakan dalam praktikum ini.

4. Gunakan multimeter untuk mengukur besar resistansi resistor. Jangan tempelkan anggota tubuh pada probe multimeter atau resistor karena hal ini dapat menimbulkan bias pembacaan.
5. Gunakan multimeter untuk mengecek dioda yang akan digunakan dapat berfungsi dengan baik.
6. Susun rangkaian seperti seperti gambar dibawah ini pada breadboard.

7. Pastikan jumper serta kabel telah dalam posisi yang baik dan benar. Pastikan dengan benar agar tidak terjadi shorting!
8. Nyalakan power supply dan atur tegangan input yang diinginkan dengan menggunakan power supply. Untuk memudahkan mengetahui tegangan dengan tepat sebaiknya gunakan multimeter, pastikan memakai mode tegangan DC.
9. Ukurlah tegangan pada dioda (VD) dan arus yang mengalir pada dioda (ID) dengan menggunakan multimeter.
10. Ubah tegangan pada power supply sesuai dengan yang ada pada tabel 4.1
11. Pada setiap perubahan tegangan ukur kembali VD dan ID.
12. Catat hasil percobaan pada table kerja 4.1!
                          4.2            Reverse Bias
Ulangi percobaan pada percobaan diatas namun dengan bentuk rangkaian seperti pada gambar dibawah ini!
Pastikan posisi dioda dan power supply benar. Catat hasil percobaan pada table kerja 4.2!
V.                DATA HASIL
5.1 Forward Bias
V sumber (volt)
VD (Volt)
ID (Ampere)
0,06
0,45
0
0,02
0,62
0,01
0,8
0,79
0
1
0,99
0
5.2 Reverse Bias
V sumber (volt)
VD (Volt)
ID (Ampere)
0,46
0,46
0
0,6
0,02
0
0,8
0,40
0,38
1
0,4
00,49

VI.             PEMBAHASAN
Dioda adalah komponen aktif dua kutub yang pada umumnya bersifat semikonduktor, yang dapat arus listrik mengali ke satu arah dan menghambat arus dari arah sebaliknya. Karakteristik diode yaitu diode akan menghantar jika secara maju (forward) dan akan menghantar jika dikerjakan secara terbalik (reverse).
Pada forward bias apabila tegangan positif baterai dihubungkan keterminal anoda (A) dan negatifnya ke terminal katoda maka diode tersebut mendapatkan bias maju. Apabila VA-K positif, maka pembawa mayoritas dari tipe P (hole) akan tertarik oleh kutub negative baterai lewati persambungan dan borkombinasi dengan elektron (pembawa mayoritas bahan tipe n). demekian juga elektronnya akan tertarik oleh kutub positif baterai untuk melewati persambungan. Oleh karena itu, daerah pengosongan terlihat semakin menyempit pada saat diode diberi bias maju. Dan arus diode yang disebabkan oleh pembawa mayorita.
Pada percobaan forward bias kami melakukan 4 kali percobaan. Pada percobaan pertama didapatkan hasil Vsumber = 0,06 Volt, Vd = 0,45 V dan ID = 0 A. Pada percobaan kedua Vsumber = 0,62 V, Vd = 0,62, ID = 0,01 A. Pada percobaan ketiga Vsumber = 0,8 V, Vd = 0,79 V, ID = 0,01 A. dan percobaan keempat Vs = 1 V, VD = 0,99 dan ID = 0 A.
Pada percobaan forward bias ini dari data yang didapat maka apabila tegangan sumber besar maka tegangan diode juga akan besar. Besarnya arus pada ditentukan oleh ID.
Pada percobaan kedua yaitu Reverse bias. Bias mundur adalah tegangan negative baterai keterminal anoda (A) dan tegangan positif keterminal katoda (K) dari suatu diode. Dengan kata lain, tegangan anoda katoda VA-K adalah negative (VA-K  0 ).
Karena ujung anoda (A) yang berupa bahan tipe P diberi tegangan negative, maka hole-hole(pembawa mayoritas) akan tertarik kekutub negative baterai menjauhi persambungan. Demekian juga karena ujung katoda (K) yang berupa bahan tipe n diberi tegangan positip, maka elektron-elektron (pembawa mayoritas) akan tertarik ke kutub positip baterai menjauhi persambungan. Sehingga daerah pengosongan semakin besar, dan arus yang disebabkan oleh pembawa mayoritas tidak ada yang mengalir.
Sedangkan pembawa minoritas yang berupa elektron (pada bahan tipe p) dan hole (pada bahan tipe n) akan berkombinasi sehingga mengalir arus jenuh mundur (reverse saturation current) atau Is. Arus ini dikatakan jenuh karena dengan cepat mencapai harga maksimum tanpa dipengaruhi besarnya tegangan baterai.
Pada percobaan reverse bias ini kami juga melakukan 4 kali percobaan. Pada percobaan pertama didapatkan Vsumber = 0,46, VD= 0,46 dan ID= 0 A. Pada percobaan kedua Vsumber = 0,6 V, Vdioda = 0,02 dan Idioda = 0 A pada percobaan ketiga Vs = 1, Vdioda = 0,49. Pada percobaan keempat Vs = 1, Vdioda = 0,4 dan ID = 0,38.
Pada percobaan ini dapat dilihat bahwa semakin tinggitegangan sumber maka tegangan diode akan semakin rendah. Dan nilai arus diode dapat dilihat pada percobaan ketiga dan keempat.
Adapun terdapat kesalahan pada saat melakukan percobaan ini baik itu secara alat maupu kesalaha personal dalam melaksanakan praktikum ini.

VII.          KESIMPULAN
1.      Karakteristik diode yaitu diode akan menghantar jika arah maju (forward) dan akan menghambat jika dikerjakan secara terbalik (reverse)
2.      Suatu benda mendapatkan bias maju apabila tegangan positif baterai dihubungkan ke terminal Anoda (A) dan negatifnya ke terminal katoda (K) maka suatu benda mendapat bias mundur apabila tegangan negative baterai keterminal anoda (A) dan tegangan positif keterminal katoda (K) dari satu diode. Dengan kata lain, tegangan anoda katoda Va-k adalah negative (Vak )
3.      Gambar Karakteristik Dioda







Daftar Pusataka
Fauzan, dkk. 2016. Karakteristik Dioda (E9). Jurnal Elektronika Dasar II. NRP : 4100089
Ghovanloo,dkk. 2014. Fullly integrated Wideband High-current Rectifiers for inductively powerd device. IEEE Journal of Solid-State Circuit. Vol.39. No.11.
Istardi,D. 2017. Pengenalan Elektronika Daya. Yogyakarta: ANDI.
Surjono,H,D. 2007. Elektronika: Teori dan Penerapan. Jawa Timur: Cerdas Ulet Kreatif.
Yohandri, dan Asrizal. 2016. Elektronika Dasar 1. Jakarta: Kencana.
Zoldan, dkk. 2015. N and P Type Character Of Single Molecule Diodes. Vol 5:8350.

Lampiran Hitung


Lampiran Gambar


TRANSISTOR SEBAGAI PENGUAT TEGANGAN (Common Emitter)

I.       TUJUAN       
1.1  Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapat mengidentifikasi karakteristik Transistor sebagai penguat dengan benar.
1.2  Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapat membedakan prinsip transistor sebagai penguat dengan transistor sebagai saklar dengan benar.
1.3  Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapat menghitung penguatan rangkaian dengan benar.
II.    LANDASAN TEORI
Transistor adalah komponen semikonduktor yang terdiri atas sebuah bahan type p dan diapit oleh dua bahan tipe n (transistor NPN) atau terdiri atas sebuah bahan tipe n dan diapit oleh dua bahan tipe p (transistor PNP). Ketiga terminal transistor tersebut dikenal dengan Emitor (E), Basis (B) dan Kolektor (C). Emitor merupakan bahan semikonduktor yang diberi tingkat doping sangat tinggi. Bahan kolektor diberi doping dengan tingkat yang sedang. Sedangkan basis adalah bahan dengan doping yang sangat rendah. Apabila pada terminal transistor tidak diberi tegangan bias dari luar, maka semua arus akan nol atau tidak ada arus yang mengalir. Sebagai mana terjadi pada persambungan dioda, maka pada persambungan emiter dan basis (JE) serta pada persambungan basis dan kolektor (JC) terdapat daerah pengosongan. Setelah transistor diberi tegangan bias aktif, maka daerah pengosongan pada persambungan emitor-basis menjadi semakin sempit karena mendapatkan bias maju. Sedangkan daerah pengosongan pada persambungan basis-kolektor menjadi semakin melebar karena mendapat bias mundur (Surjono,2007:55-57).
Karakteristik transistor disajikan dengan kurva karakteristik yang menggambarkan kerja transistor. Akan ditinjau dari tiga kurva karakteristik yaitu kolektor, kurva basis dan kurva beta (β). Pemilihan titik kerja bertujuan agar transistor bekerja di daerah yang diinginkan. Pada untai penguat, transistor, transistor dirancang untuk bekerja di daerah aktif, sehingga sinyal keluaran (tegangan atau arus kolektor) merupakan reproduksi sinyal masukan yang diperkuat. Dalam pemilihan titik kerja VCC, RB dan RC dipilih agar transistor tidak melampaui batas jangkauan (rating)nya, yaitu : 1. Lesapan (dispasi) kolektor maksimum, PC (maks), 2. Tegangan kolektor emitter maksimum, VCC(maks), 3. Arus kolektor maksimum, IC (maks) dan 4. Tegangan basis emitter maksimu, VBE ­(maks). Kapsitor C1 ­dan C2  adalah kapasitor kapling yang digunakan untuk melewatkan sinyal. Arus DC tidak dapat lewat kapasitor kopling tersebut, sehingga arus dan tegangan prasikap tidak berpengaruh (Widodo,2002:49-54).
Menurut Blocher (2004:110-111), masukan untuk rangkaian penguat didapatkan dari sumber voltase sebelah kiri dalam skema rangkaian. Sumber voltase ini merupakan voltase DC yang konstan sebesar 0,7 V yang dijumlahkan dengan satu sinyal voltase AC, VS dengan amplitude kecil. Input dari penguat adalah sambungan antara basis dan emitor. RS ­ adalah resistor yang menunjukkan resistivitas dalam sumber voltase masukan tersebut. Kolektor disambungkan dengan voltase DC sebesar Vb (voltase baterai/voltase sumber) melalui resistor RC. Bagian negative dari sumber voltase ini merupakan GND dan disambungkan dengan emitor. Output dari rangkaian adalah sambungan antara kolektor dan GND (ground). Rangkaian seperti ini disebut common emitter amplifier karena emitor dipakain sebagai sambungan bersama untuk input dan output.
Cara kerja rangkaian electrosurgery unit diatas yaitu pada saat trafo power supply mendapatkan supply tegangan PLN sebesar 220VAC kemudian diturunkan melalui trafo step-down dengan keluaran tegangan 32VAC, lalu di searahkan meluli diode sehingga gelombang rangkaian akan berubah menjadi VDC, maka akan mengalir tegangan VDC menuju transistor LM 317 dimana digunakan untuk regulator tegangan yang akan di atur oleh resistor variable, dan sebagian tegangan akan mengalir ke transistor MJ 2955 dimana transistor ini digunakan sebagai penguat arus sehingga dalam rangkaian akan mengeluarkan arus sesuai dengan data sheet yang diperoleh dari transistor tersebut. Lalu kemudian tegangan akan mengalir menuju rangkaian pencacah frequency dimana dalam rangkaian ini tegangan DC akan dicacah melalui transistor 2N3055 dimana transistor ini merupakan jenis transistor daya dan kemudian tegangan dikuatkan melalui trafo step-up, hasil dari keluaran tegangan pada trafo tersebut digunakan untuk cutting pada probe positive & probe negative (Firmansyah,dkk,2016:122-123).
According to Kumrey and Mahobik (2016:102) In the amplifier current, voltages are supplied, so that emitter base junctions are of forward-based and the collector base junction is reserve-based. The means Vce>BBE. Consider the first of the entire forward-bleses emitter-base junction. It is also very narrow making it easy for a large fractini, Alfa, of the holes to diffuse across to collector=base junction where the junction voltage acceleretary the into the collector region to form the collector current, Ic this:
Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal. Tegangan atau arus yang dipasang di satu terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui 2 terminal lainnya. Transistor adalah komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan sebagai ampliefier(peguat). Rangkaian analog meliputi pengeras suara, sumber listrik stabil, dan penguat sinyal radio (Kalsum, 2011:48-49). 

III. ALAT DAN BAHAN
1.         Kit Komponen(toolbox)
2.         Multimeter                              = 1 unit
3.         Osiloskop                                = 1 unit
4.         Signal Generator                     = 1 unit
5.         Kabel Jumper                          = 1 meter
6.         Catu Daya                               = 1 unit
7.         Breadboard                             = 1 unit
8.         Resistor (1 kΩ)                        = 2 buah
9.         Resistor (10kΩ)                       = 2 buah
10.       Kapasitor 47 nF                      = 2 buah
11.       Kapasitor 16 nF                      = 1 buah
12.       Transistor NPN/PNP               = 1 buah

IV.  PROSEDUR PERCOBAAN
1.    Persiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.
2.    Periksa semua bahan dan peralatan, pastikan semua dalam kondisi yang baik.
3.    Buatlah rangkaian common emitter sepertigambar dibawah ini!


4.    Berikan tegangan VCC sebesar 12V (RB=10k, RC=1k, RE=1k), potensiometer (RV) 10k, kapasitor (bagian basis dan emitter) adalah 47μF, kapasitor (bagian output) adalah 16 μF, praktikan diperbolehkan menggunakan nilai komponen yang berbeda dengan mencatatkannya).
5.    Pada potensiometer(Rv) hubungkan hanya pada kaki 2 dan 3, atau 1 dan 2. Kemudian kaki-kaki tersebut dihubungkan pada multimeter dan atur potensiometer (Rv) agar VCE bernilai 6 Volt
6.    Ukur beda tegangan pada resistor RC, lalu hitung arus IC.
7.    Ukur nilai tegangan VBEdan arus IBdengan menggunakan multimeter.
8.    Berikan sinyal input pada rangkaian berupa sinyal sinusoidal dengan amplitudo input dari 50mV sampai 250mV dengan selang 50mV. Atur besarnya tegangan dan besar frekuensi agar signal dapat teramati dengan baik pada layar osiloskop.
9.    Ukur dan catat besarnya tegangan output (Vout) dan tegangan input (Vin). Amati sinyal input dan sinyal output, apakah terjadi perbedaan fasa atau tidak.

V.    DATA HASIL


Nilai (sertakan satuan)
VCC
12 Volt
VCE
12,7 Volt
VBE
0,7 Volt
IB
-0,01 A
IC
0,05 A
VIn
5,5 Volt
VOut
16,8 Volt

Hasil penguatan yang diperoleh (VOut/VIn) = 16,8/5,5 = 3,05 Kali

Gambar sinyal input dan output pada osiloskop

VI. PEMBAHASAN
Transistor adalah komponen semikonduktor yang terdiri atas sebuah bahan type P dan diapit oleh dua bahan tipe N (transistor NPN) atau terdiri atas sebuah bahan tipe N dan diapit oleh dua bahan tipe P (transistor PNP). Transistor memiliki tiga kaki, yaitu kolektor (C), basis (B) dan emitor (E). Emitor adalah bahan semikonduktor yang diberi tingkat doping sangat tinggi, Kolektor diberi doping dengan tingkat yang sedang dan Basis diberi doping yang sangat rendah. Transistor yang digunakan sebagai penguat adalah transistor bipolar yang terbuat dari persambungan P-N. Rangkaian transistor konfigurasinya emitter bersatu merupakan rangkaian yang paling banyak digunakan sebagai rangkaian penguat terutama penguat sinyal kecil.
Seperti yang diketahui bahwa transistor dapat memperbedar level sinyal keluaran sampai beberapa kali sinyal masukan. Adapun kelebihan dari sebuah transistor tidak hanya dapat menguatkan sinyal tetapi juga bias sebagai penguat arus, daya dan tegangan. Sehingga agar suatu transistor dapat bekerja sebagai penguat secara optimal, maka harus dibutuhkan titik penguat transistor dan juga harus sama dengan yang ditentukan oleh garis beban AC/DC.
Adapun pada praktikum tentang transistor sebagai penguat dibutuhkan kit komponen, multimeter, osiloskop, sinyal generator, kabel jumper, catu daya, breadboard, resistor 1 kΩ, kapasitor 47 nF, 10 nF dan transistor tipe NPN dan PNP. Pada praktikum kami melakkan percobaan untuk mengukur VCC, VCE, dan VBE­. Di mana nilai masing-masingnya sebesar 12 volt, 12,7 volt dan 0,7 volt. Sementara IB dan  IC masing-masing sebesar – 0,01 A dan 0,05 A. Sedangkan tegangan masukan (VIn)  sebesar 5,5 Volt dan tegangan keluaran (VOut) sebesar 16, 8 Volt. Sehingga diperoleh besar penguatan pada transistor sebesar 3,05 kali. Hal ini sesuai dengan teori yang ada di mana transistor berfungsi sebagai penguat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar arus yang mengalir, maka semakin besar tegangannya. Sedangkan hasil tegangan masukan akan lebih kecil dari hasil tegangan keluaran. Hal ini disebabkan oleh transistor yang berfungsi sebagai penguat. Adapun untuk mengukur tegangan dapat dilakukan dengan kaki emitor digroundkan, lalu input diletakkan ke basis dan output diletakkan pada kaki kolektor. Adapun alasan VOut lebih besar dari VIn  karena ketika arus mengalir dari sumber menuju kapsitor, maka kapasitor akan menyimpan muatan yang mengalir dari sumber sampai penuh d dalam kapasitor dan kemudian dialirkan, sehingga tegangan keluaran lebih besar sedangkan tegangan masukan lebih kecil karena arus yang diterima seadanya dari sumber arus.
Adapun karakteristik dari transistor sebagai penguat, yaitu : sinyal outputnya berbalik fasa 180  terhadap sinyal input, sering dipakai pada penguat frekuensi rendah, mempunyai stabilitas penguatan yang rendsh karena bergantung pada kestabilan suhu dan bias transistor.

VIII.       KESIMPULAN
1.      Karakteristik dari transistor sebagai penguat, yaitu : sinyal outputnya berbalik fasa 180  terhadap sinyal input, sering dipakai pada penguat frekuensi rendah, mempunyai stabilitas penguatan yang rendsh karena bergantung pada kestabilan suhu dan bias transistor.
2.      Prinsip kerja transistor sebagai penguat adalah transistor bekerja pada wilayah antara titik jenuh dan titik kondisi terbuka (cut-off), tetapi tidak pada kondisi keduanya. Sedangkan prinsip transistor sebagai saklar adalah transistor akan bekerja pada kondisi terbuka (cut-off) apabila arus basis dilalui oleh arus yang sangat kecil sehingga bekerja seperti saklar yang terbuka dan kondisi jenuh jika basis transitor diberi arus yang cukup besar sehingga bekerja seperti saklar yang tertutup.
3.      Mencari penguatan rangkaian dapat menggunakan rumus :


           


DAFTAR PUSTAKA
Blocher, Richard. 2004. Dasar Elektronika. Yogyakarta: Andi Offset.
Kalsum, Toibah Umi dan Rosdiana. 2011. Alar Penghapus White Board Otomatis Menggunakan Motor Super. Jurnal Media Infotama. Vol. 7. No. 1. ISSN: 1858-2680.
Kumrey dan Mahobia.2012. Study and Performance Testing of Transistor With Common Emmiter Amplifier Circuit. Journal of Research Granthaabyah. Vol.4. ISSN: 2394-3629.
Sham Tam, Wingg. 2018. Design Methodology of Double Nuling Resistors Nested-Miller Compesation of Multistage Amplifier. Journal Science Direct. ISSN: 2589-2088.
Surjono,H.D. 2007. Elektronika : Teori dan Penerapan. Jember: Cerdas Ulet Kreatif.
Widodo, T.S. 2002. Elektronika Dasar. Jakarta: Salemba Teknika.




















Lampiran Hitung









Lampiran gambar
    
Rangkaian transitor sebagai penguat
Bentuk gelombang






KARAKTERISTIK MOSFET
I.                   TUJUAN    
1.1  Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat mengidentifikasi karakteristik MOSFET sebagai saklar dengan benar
1.2  Setelah melakukan praktikum, praktikan dapat membedakan kaki- kaki MOSFET dengan benar.

II.                LANDASAN TEORI
Menurut Fora (2010:28), Regulator arus konstan, rangkaian rregulator ini menggunakan MTP3055, TMOS powers MOSFET yang mempunyai berbagai operasi kerja dengan mengatur besar/kecilarus pengisian ke baterai NiCad. Arus pengisian ini pada dasarnya tidak bergantung dari tegangan drain bsource (VDs) ketika tegangan VDs melebihi 2 volt.
According to Bower (1998:1) the system features multiple dosimeters that may be used to monitor entrance or exit skin dose and intracavity doses in phantoms in real time. We have characterized both the standard MOSFET dosimeter designed for the lower dose measurements. The sensitivity, linsarity, anuler, response, posexpasure reporse, and physiche charactiteristic were evaluabe.
Menurut Muda (2013: 27-29) Resistor merupakan komponen elektronik dua kutub yang didesain untuk menahan arus listrik dengan memproduksi tegangan listrik diantara kedua kutubnya,nilai tegangan terhadap resistansi sebanding dengan arus yang mengalir. Fungsi dari resistor adalah sebagai pembagi arus , penurun tegangan, pembagi tegangan dan penghambat aliran arus listrik dan lain-lain. Nilai resistansi dari potensiometer tertulis pada badan potensiometer menggunakan kode angka.
Menurut  Bishop (2002: 84-85) Untuk transistor terdapat beberapa fitur dan karakteristik yang harus anda pertimbangkan sebelum menentukan jenis yang tepat bagi aplikasi anda. Salah satunya adalah transistor junction dua – kutub (bipolar junction transistor atau BJT ). Sedangkan yang lainnya adalah MOSFET n-kanal (atau FET ). Transistor yang tergabung dalam kelompok ini adalah jenis BJT serbaguna (general purpoe ) ,yang sangat banyak tersedia di pasaran, murah dan diproduksi oleh beberapa pabrikan yang berbeda.Nomor tipe tidak terlalu informative untuk dijadikan rujukan dalam memilih sebuah transistor.
Menurut Sutrisno (1986: 182-189) MOSFET (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor ) adalah suatu transistor efek medan dengan pintu yang diberi lapisan oksida – silicon tapis yang bersifat isolator. Rangkaian terpadu IC semacam ini disebut LSI (Large Scale Integration ) terbuat dari MOSFET,yaitu yang dikenal dengan MOS-LSI. Ada dua susunan MOSFET daya, yaitu susunan VMOS dan susunan DMOS .Oleh sebab itu MOSFET daya juga dikenal sebagai MOSFET vertical. Peranan tabung hampa tersisih.

III.             ALAT DAN BAHAN
1.      Resistor           (1 kΩ)                                      = 2 pcs
2.      Resistor           (470 Ω)                                    = 1 pcs
3.      Transistor MOSFET    (IRFZ44 N)                 = 1 pcs
4.      Potensiometer 10 K                                        =1 pcs
5.      Multimeter                                                      = 1 unit
6.      Project Board / Bridge Board                                     = 1 unit
7.      Jumper                                                             = secukupnya
8.      Baterai 9 volt                                                 = 1 buah
9.      Transformator                                                 = 1 buah

IV.             PROSEDUR PERCOBAAN

Transistor  Mosfet sebagai saklar

1.    Persiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.

2.    Periksa semua bahan dan peralatan, pastikan semua dalam kondisi yang baik.

3.    Buatlah rangkaian seperti gambar dibawah ini pada Project Board!

4.    Atur tegangan potensiometer hingga tegangan pada potensiometer menjadi 2V.
5.    Amati karakteristik LED (ON/OFF).
6.    Hubungkan Sunber tegangan positif (+) pada kaki Drain dan sumber tegangan negative (-) pada kaki source , selanjutnya hubungkan multimeter positif (+) ke kaki drain dan multimeter negative (-) kekaki source.
7.    Ubah tegangan di sumber tegangan menjafi 3V,5V,7.5V catat hasil Vin dan
 Voutnya lalu amati LED.
arilah nilai  ID menggunakan multimeter.





V.                DATA HASIL
Vin
Vout
ID
Keterangan LED
0
0 v
0 Ampere
-
2
-
-
-
3
5,46 v
0,01 Ampere
Redup
4,5
7,19 v
0,02 Ampere
Hidup
6
8,57 v
0,03Ampere
Hidup Terang






VI.             PEMBAHASAN
Struktur semikonduktor JFET terdiri dari bahan semikonduktor tipe-p dsan tipe-n. Antara tipe-p dan tipe-n  bukan hanya junction saja tetapi juga mempunyai kaal sepeb rti halya transistor. TMOS power MOSFET yang mempunyai berbagai operasi kerja dengan mengatur besar/kecil arus pengisian ke baterau NiCad. Oleh sebab itu MOSFET daya juga dikenal sebagai MOSFET vertical.Adapun tujuan dalam melakukan percobaan ini yakni, setelah melakukan praktikum,praktikan dapat membedakan kaki-kaki MOSFET dengan benar dan mengidentifikasi karakteristik MOSFET sebagai saklar dengan benar. Adapun alat dan bahan yang dipergunakan dalam percobaan kali ini, yakni sebuah resistor ( k  ) ,sebuah resistor (470  ) , sebuah transistor MOSFET ( IRF 244 N) ,sebuah potensiometer 10k,sebuah multimeter ,sebuah project board / bridge board, secukupnya jumper,sebuah baterai 9 volt dan sebuah transformator. Adapun prosedur percobaan yang dapat dilakukan , yakni dipersiapkan semua peralatan dan bahan – bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan ,diperiksa semua bahan dan peralatan,pastikan semua dalam kondisi yang baik ,dibuatlah rangkaian pada papan project board , diatur tegangan potensiometer hingga tegangan potensiometer menjadi 2v,diamati karakteristik LED (ON/OFF). Dihubungkan sumber tegangan positif (+) pada kaki drain dan sumber tegangan negative (-) pada kaki source, selanjutnya dihubungkan multimeter positif (+) ke kaki drain dan multimeter negative (-) ke kaki source. Diubah tegangan disumber tegangan menjadi 3v, 5v, 7,5 v dicatat hasil Vin dan Voutnya lalu amati LED. Dicarilah nilai ID meenggunakan multimeter. Adapun hasil data yang didapatkan berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan yakni : pada Vin yaitu 0 dengan Vout adalah 0 volt,sedangkan pada ID adalaha 0 A sehingga keterangan LED tidak ada. Pada percobaan kedua,Vin didapat 2 dengan Vout adalah tidak ada dan ID tidak ada juga sedangkan keterangan lampu tidak ada. Pada percobana ketiga Vin adalah 3 dengan Vout adalah 5,46 V dan ID adalah 0,01 Ampere dan keterangan lampu LED adalah hidup. Pada percobaan keempat, Vin adalah 4,5 dan Vout adalah 7,19 V sedangkan ID adalah 0,02 Ampere dan keterangan LED adalah hidup. Pada percobaan terakhir Vin adalah 6 v dan Vout adalah 8,57 v , sedangkan ID  adalah 0,03 Ampere dan keterangan LED adalah lamou terang. Adapun karakteristik MOSFET pada daerah Cut off merupakan saklar terbuka dengan arus drain ID  0 Ampere.Untuk mendapatkan kondisi MOSFET dalam keadaan open maka tegangan gate Vgs harus lebih rendah dari tegangan threshold Vth dengan cara menghubungkan terminal input (gate) ke ground. Sehingga, MOSFET menjadi saturasi dan dapat dianalogikan sebagai saklar pada kondisi tertutup. MOSFET terdiri dari 3 kaki terminal,yaitu Gate (G), Drain (D) dan Source (S). Drain adalah kaki output , Gate adalah kaki output dan Source (S) adalah kaki sumber.Saat mendapat suplay daya, lampu LED indicator daya pada papan Arduino akan menyala menandakan bahwa ia siap bekerja.LED ini dapat digunakan sebagai output saat seseorang pengguna membuat sebuah program dan ia membutuhkan sebuah penanda dari jalannya program tersebut. Rangkaian LDR atau Light Dependent Resistor adalah salah satu komponen elektronika yang masih bisa dibilang sebagai resistor yang besar resistansi nilai tahanannya bergantung pada intensitas cahaya yang menutupi permukaan, diumana LDR yang digunakan dalam perancangan ini adalah yang memiliki nilai resistansi sebesar 100  dari pengukuran menggunakan perangkat avometer. Itu sebabnya makin kuat intensitas cahaya maka makin kecil nilai tahanannya dan makin lemah intensitas cahaya maka makin besar nilai tahanannya. Pada umumnya, rangakaian LDR digunakan sebagai sensor cahaya. Cara kerja yang lebih baik. Namun, dari segi intensitas cahaya belum tenu dapat memenuhi keinginan konsumen yang kebanyakan masih mengacu dengan terang lampu compact fluorescent lamp (CFL) yang sudah banyak dipakai dan beredar di pasaran. Hal ini juga berbeda dengan lampu CFL (Compact Fluorescents) yang membutuhkan waktu untuk menyala terang pada tingkat pencahayaan maksimal , lampu LED memberikan warna terang seketika saat dinyalakan. Sehingga dalam hal ini, LED akan menyala bila ada arus listrik mengalir dari anoda menuju katoda. Semakin tinggi arus yang mengalir paa LED maka semakin terang pula cahaya yang dihasilkan, namun perlu diperhatikan bahwa besarnya arus yang diperbolehkan 10mA-20mA dan pada tegangan 1,6 v – 3,5 v menurut karakter warna yang dihasilkan. Maka dari itu ,dengan tegangan arus yang diberikan sebanyak 6 volt dapat menyebabkan lampu LED semakin terang dalan penyalaannya.Dalam kegiatan praktikum ini, dapat diketahui bahwa setiap masing-masing percobaan yang dilakukan hingga akhirnya mendapatkan lampu terang menyala pada arus 6V merupakan penyebab dari tegangan arus yang besar sehingga intensitasn cahayanya semakin besar. Meskipun oercobaan pada kelompok kami kali ini hanya melakukan dua kali dengan Vin yang berbeda sehingga data yang lainnya didapatkan dari kelompok lain dikarenakan penyediaan alat dan bahan yang terbatas, serta adanya sedikir kekurangtelitian pada saat menggunakan alat. Meskipun demikian, tetap melakukan percobaan agar dapat memahami lebih mendalam mengenai percobaan yang telah dilakukan.
VII.          KESIMPULAN
1.    Karakteristik MOSFET pada daerah cut-off merupakan saklar terbuka dengan arus drain Id = 0 Ampere. Untuk mendapatkan kondisi MOSFET dalam keadaan open maka tegangan gate Vgs harus lebih rendah dari tegangan threshold Vth dengan cara menghubungkan terminal input (gate) ke grpund. Sehingga MOSFET menjadi saturasi dan dapat dianalogikan sebagai saklar pada kondisi tertutup.
2.    MOSFET terdiri dari 3 kaki terminal , yaitu Gate (G), Draian (D) dan Source (S).
a.       Gate (G) adalah kaki input
b.      Drain (D) adalah kaki output
c.       Source (S) adalah kaki sumber















DAFTAR PUSTAKA
Bishop, Owen. 2002. Dasar-Dasar Elektronika. Jakarta: Erlangga.
Bower, dkk. 1998. The Characterized of a Commercial MOSFET Dosimeter System for Use in Diagnostic X-ray. Health Physics. ISSN: 0017-9078.
For a, Rony Haendra Rahwanto. 2010. Perancangan dan Pembuatan Lampu Darurat Untuk Daerah Rawan Bencana Alam. Jurnal Teknik Waktu. Vol.8. No. 2. ISSN:1412-1467.
Muda, Imam. 2013. Elektronika Dasar.Malang: Gunung Samudra.
Sutrisno. 1986. Elektronika Teori dan Penerapannya. Bandung: ITB.






Lampiran Hitung




Lampiran Gambar
 
    
    










TRANSISTOR SEBAGAI SAKLAR ELEKTRONIK
I.                   TUJUAN     :
1.   Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapatmengidentifikasi karakteristik Transistor sebagai saklar dengan benar
2.     Setelah melakukan praktikum, praktikkan dapat membedakan kaki-kaki transistor dengan benar

II.                LANDASAN TEORI
                                            Transistor adalah suatu komonen aktif dibuat dari bahan semikonduktor. Ada dua macam transistor, yaitu transistor dwikutub (bipolar) dan transisitor efek medan (Field Effect Transistor-FET). Transisitor digunakan didalam rangkaian untuk memprkuat isyarat, artinya isyrarat lemah pada masukan diubah menjadi isyarat yang kuat pada keluaran. Pada masa kni transisitor ada dalam setiap peralatan elektronika. Transistor dwikutub dibuat dengan menggunakan semikonduktor ekstrinsik jenis p dan n, yang disusun seperti gambar







Ketiga bagian transistor ini disebut emitor,basis, dan kolektor. Makna nama bebearapa bagian transistor tersebut akan dijelaskan kemudian. Masing-masing bagian transistor ini dihubungkan keluar transisitor dengan menggunakan konduktor sebagai kaki transisitor. Pada transisitor dwikutub sambungan p-n antara emitor dan basis diberi panjar maju sehingga arus mengalir dari emitor ke basis(sutrisno,1986:117).
Sakelar adalah suatu alat dengan dua sambungan dan bisa memiliki dua keadaan, yaitu keadaan on dan keadaan off. Keadaan off/tutup merupakan suatu keadaan dimana tidak ada arus yang megalir. Keadaan on /buka merupakan satu keadaan yang mana arus bisa mengalir dengan bebas atau dengan kata lain (secara ideal) tidak ada resistivitas dan besar voltase pada sakelar sama dengan nol. Dalam keadaan saturasi dan over saturation, voltase kolektor-kolektor emitor kecil itu berarti dalam situasi ini transistor merupakan (sedikitnya) mendekati sakelar tertutup. Kalau transistor dipakai hanya pada dua titik tersebut (titik putus dan titik saturasi atau saturasi berlebihan), berarti transistor dipakai sebagai sakelar. 
Arus kolektor maksimal terdapat dari voltase supply dibagi dengan resistivitas dari resistor kolektor,berarti arus kolektor maksimal adalah arus paling besar yang bisa mengalir ketika voltase kolektor – emitor nol. Satu contoh dimana transistor dipakai sebagai sakelar adalah dalam rangkaian elektronika digital. Dalam elektronika digital biasanya hanya terdapat dua keadaan, yaitu voltase ada atau voltase nol atau dengan kata lain hany terdapat keadaan on dan keadaan off (Blocher, 2003 : 143-144).
Dengan mengatur bias sebuah transistor sampai transistor jenuh, maka seolah akan didapat hubungan singkat antara kaki kolektor dan emitor. Dengan memanfaatkan fenomena ini maka transistor dapat difungsikan sebagai saklar elektronik. Sebuah rangkaian sakelar elektronik dengan menggunakan transisitor PNP dan transistor NPN. Tampak TR3 PNP dan TR4 PNP dipakai menghidupkan dan mematikan led. Ketika kita membutuhkan rangkaian yang dapat menyalakan led ketika cahaya dari lingkungansekitar meredup. Rangkaian ini boleh jadi merupakan satu bagian dari sebuah keamanan (Bishop, 2004 : 73).
Efisiensi motor saat terhubung dengan sumber sinus tiga fase. Hal tersebut sesuai dengan prinsip dari tipe peralihan yaitu fungsi transistor sebagai elektronik switch yang dapat dibuka (off) dan ditutup (on). Dengan asumsi bahwa switch tersebut ideal, jika switch ditutup maka tegangan keluaran akan sama dengan tegangan masukan, sedangkan jika switch terbuka maka tegangan keluaran akan menjadi nol. Bebeda dengan tipe linier, pada tipe peralihan tidak ada daya yang diserap pada transistor sebagai switch. Ini dimungkinkan karena pada waktu switch ditutup tidak ada tegangan yang jatuh pada transitor, sedangkan pada watu switch dibuka, tidak ada arus listrik yang mengalir. Ini berarti semua daya terserap pada beban, sehingga efisiensi daya menjadi 100%, namun pada prakteknya, tidak ada switch yang ideal, sehingga akan tetap ada daya yang hilang sekecil apapun pada komponen switch dan efisiennya walaupun sangat tinggi, tidak akan pernah mencapai 100% (Hardianto, 2014:6).
High performance (1800V, 10,8 mΩ, = 20 at rom temperature) 4H –SIC NPN bipolar junction transistor in 4H-SIC have been demonstrated which outperformans all SIC power switching devices with comparable blocking voltages reported to dat. The BJTS exhibited a temperature, stable curent gain clue to higher percent ionization of the deep level. All acceptor atoms in the base region at elevated temperatured, which makes these devices atractive for paralleling. A significant decrease in common emitter current gain was observated for tight pitch devices, whichis caused by sorface reonbination at the etched sidewalls. Ruther optimazation of surface possivation, espencially on etched side walls, in necassary to improve these devices (Sigh, 2001:126).
Transistor dapat digunakan sebagai sakelar elektronik dengan membuat transistor tersebut berada dalam kondisi cutoff (sakelar terbuka, arus tidak mengalir). Atau saturasi (Saklar tertutup, sehingga arus mengalir) (Budiharto, 2008 : 17). 

III.          ALAT DAN BAHAN
1.    Resistor                                            = 1 kΩ / 1 W dan 820 Ω / 1 W
2.    Transistor                             =  C9014
3.    Potensiometer (10 K)
4.    Power Supply                                   = 1 unit
5.    Multimeter                           = 1 unit
6.    Baterai 9       V                     = 1 unit
7.    Project Board / Bridge Board          = 1 unit
8.    Led Dioda                            = 1 unit
9.    Jumper Ø.1 mm                    = 1 meter

IV.             PROSEDUR PERCOBAAN
1.        Persiapkan semua peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan saat melaksanakan percobaan.
2.        Periksa semua bahan dan peralatan, pastikan semua dalam kondisi yang baik.
3.        Buatlah rangkaian seperti gambar dibawah ini pada Project Board!
4.        Hubungkan baterai 6 Volt pada rangkaian yang terhubung langsung dengan resistor R1
5.        Hubungkan Power Supply yang terhubung langsung dengan R2 dimulai dari tegangan 0 Volt
6.        Hubungkan saklar S1. Amati Dioda LED (Led menyala/padam)
7.        Putar/atur tegangan power supply, sampai lampu LED padam
8.        Ukur tegangan yang dirasakan oleh R1 (VR1), R2 (VR2) dan tegangan pada Dioda LED (VD)
9.        Catat hasil pada table kerja 6.1!
10.    Ukurlah nilai arus kaki kolektor (Ic) dan arus kaki basis (Ib)
11.    Catatlah hasil pada tabel kerja 6.1!

V.                DATA HASIL

No
Vz
V1
VR1
VR2
Ic
Ib
Vled
1.
4 V
2 V
2,2 V
0,2 V
5,6 x10^-3 A
5,12 x10^-3 A
1,1V
2.
4 V
1 V
2,4 V
1,8 V
6,15 x10^-3 A
6,15 x10^-3 A
1,75V
3.
4 V
4V
2,4 V
2,6 V
6,15 x10^-3 A
6,67 x10^-3 A
1,8V
4.
4 V
6V
2,6 V
4,2 V
6,67 10^-3A
1 x10^-3 A
1,8V
5.
4 V
12V
2,8 V
10 V
7,17 x10^-3 A
2,5 x10^-3 A
1,95V

VI.             PEMBAHASAN
Transistor adalah suatu komonen aktif dibuat dari bahan semikonduktor. Ada dua macam transistor, yaitu transistor dwikutub (bipolar) dan transisitor efek medan (Field Effect Transistor-FET). Transistor dalam rangkaian elektronik banyak digunakan sebagai penguat, penyearah, pencampur, oscillator, saklar elektronik, dan sebagainya. Pada praktikum ini yang aka dikaji adalah transistor sebagai penguat.
Pada praktikum kali ini yaitu transistor sebagai sakelar bertujuan untuk mengetahui cara menggunakan, merangkai, menganalisa, dan mengaplikasikan transistor sebagai sakelar elekttronik. Alat dan komponen yang digunakan yaitu transistor, resistor, LED, projectboard, catudaya, dan multimeter.
Resistor yang digunakan bernilai 390 ohm. Setelah di cek menggunakan multimeter digital, transistor bertipe NPN. Untuk mengukur tegangan pada resistor digunakan multimeter dengan menggunakan 2 sumber tegangan yaitu Vz (Tegangan tetap) dan V1 (tegangan yang diubah-ubah) secara berangsur dari kecil ke besar sebagaimana terdapat pada tabel.
Dapat dilihat pula pada tabel dengan Vz (tegangan tetap) yaitu 4V dan V1 diubah secara teratur menuju tegangan yang lebih besar, tegangan pada resistor pertama yang melalui led dari kaki kolektor juga menjadi semakin besar dengan perubahan yang teratur. Begitupula dengan tegangna resistor kedua yang tanpa melalui led dengan tegangan tetap disamping kaki basic, tegangannya menunjukkan nilai yang semakin besar dengan jarak yang kontinyu. Pada lampu led semakin menyala terang dengan tegangan yang juga semakin besar. Sehingga saat tegangan V1 diperkecil maka transistor berfungsi sebagai sakelar. Transistor sebagai sakelar (solud sake) disini digunakan untuk mengendalikan nyala pada led. Jadi, kuat lemahnya nyala pada led membuktikan apakah transistor dapat berfungsi sebagai sakelar. Jikalau tegangan V1 diberikan dengan nilai tinggi, maka nyala led semakin redup karena arus keluaran pada kaki kolektor (Ic) adalah nol. Sama dengan kaki basis yang arus masuknya adalah nol (Ib). maka tegangan maksimum berada dikaki kolektor (Vcc). Kondisi ini membuat arus tidak bisa memasuki rangkaian. Disinilah transistor berperan sebagai sakelar.
Satu sakelar adalah suatu alat dengan dua sambungan dan bisa memiliki dua keadaan, yaitu keadaan on dan off. Keadaan on merupakan satu keadaan yang mana arus dapat mengalir dengan bebas atau ideal tidak ada resistivitas dan besar voltase pada sakelar sama dengan nol. Keadaan off merupakan suatu keadaan dimana tidak ada arus yang mengalir. Kalau transistor dipakai hanya pada dua titik tersebut berarti transistor dipakai sebagai sakelar (Blocher,2003:143). 
Ada dua keadaan dimana transistor dapat digunakan sebagai sakelar elektronik yaitu pada keadaan cut off (sakelar terbuka, arus tidak tidak mengalir) dan atau saturasi yaitu sakelar tertutup sehingga arus mengalir.
Maka dari itu dari percobaan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa saat Vz (tegangan tetap) dan Vi (tegangan input) diperbesar maka arus yang mengalir semakin kecil. Hal ini dapat dibuktikn dengan kuat lemahnya nyala lampu led. Apabila arus yang mengalir semakin besar maka nyala lampu led akan semakin terang dengan tegangna yang kecil, dan sebaliknya. Nyala lampu akan redup bila tegangan semakin besar dengan arus yang semakin besar. Dan disaat Vz dan Vi kecil maka disitulah transistor berperan sebagai sakelar fullon.
VII.          KESIMPULAN
1.    Transistor memiliki tiga kaki yaitu basic sebagai tumpuan, emitor sebagai pengeluaran dan kolektor sebagai pengumpul. Untuk penggunaannya, antara kolektor dan basis dipasang tegangan panjar mundur melalui catu daya Vcc. Nyatalah muatan mayoritas yang dikeluarkan oleh emitor bertumpu dibasis dan ditampung oleh kolektor
2.    Pada saat transistor sebagai sakelar tertutup (saturasi) adalah ketika arus masuk basis (Ib) lebih besar dari arus masuk basis tidak diberikan arus (Ib) adalah nol. Dan arus keluarannya (Ic) adalah nol disebut saklar terbuka.
3.    Pengaplikasian transistor sebagai sakelar dapat digunakan pada motor, solenoid, atau lampu.


DAFTAR PUSTAKA

Blocher, Richard. 2004. Dasar Elektronika. Yogyakarta: Andi.
Budiharto, W. 2008. Interfacing Computer dan Mikrontoler. Jakarta : PT. Elex
      Media Koputindo.
Hardianto. Triwahyu. 2004. Perancangan simulasi unjuk kerja motor induksi tiga fase. Jember : Universitas Jember
Singh. Ranbir. 2001. 1800V NPN Bipolar Junction Transistor in 4H-SIC. IEE Electron Device Leters, Vol. 22. No.3. March 2001.
Sutrisno. 1986. Elektronika Teori dan Penerapannya Jilid 1. Bandung.


Lampiran Hitung
1.      Menentukan Ib dan Ic
a.       Percobaan 1
VR1 = VB = 2,2 V
VR2 = VC = 0,2 V
Ib =  =  = 0,0056 A
Ic =  =  = 0,002 A

b.      Percobaan 2
VR1 = VB = 2,4 V
VR2 = VC = 1,8 V
Ib =  =  = 0,0061A
Ic =  =  = 0,0018 A

c.     Percobaan 3
VR1 = VB = 2,4 V
VR2 = VC = 2,6  V
Ib =  =  = 0,0056 A
Ic =  =  = 0,002



Lampiran Gambar